Montessori

Cari Tahu tentang Kurikulum Montessori

Setelah cukup mengetahui tentang prinsip dan filosofi Montessori, kita menyelam lebih dalam lagi yuk Parents. Kali ini saya mau membahas tentang kurikulum yang dirancang Dr. Montessori yang dibagi ke dalam lima area, yaitu area keterampilan hidup, area sensorial, area bahasa, area matematika, dan area budaya.

Kurikulum Montessori masih relevan digunakan hingga kini dan masih membuat saya takjub jika melihat anak usia 3-6 tahun dapat begitu fokus dalam bekerja, tidak berisik seperti di kelas anak usia dini pada umumnya, dan sangat minim konflik ketika berada di prepared environment atau kelas Montessori. Kondisi anak yang seperti ini biasa dikenal juga dengan anak yang sudah melalui proses normalisasi. Nanti kita bahas terpisah yaa.

Kurikulum Montessori dirancang berdasarkan penelitian Dr. Montessori sejak menjalankan Casa dei Bambini dan ia terus mengembangkannya berdasarkan pengamatan yang dilakukan kepada anak-anak di kelasnya. Hingga akhirnya, diciptakan lima area Montessori lengkap dengan rangkaian material penunjang yang memiliki berbagai tingkat kesulitan untuk anak mengasah keterampilan di tiap areanya.

Highlight Kurikulum Montessori

Setiap kurikulum pendidikan yang tersedia saat ini tentu memiliki kelebihan masing-masing. Tulisan ini tidak bermaksud menilai sebuah kurikulum lebih unggul dari kurikulum lainnya, melainkan ingin menunjukkan bagaimana penerapan kurikulum Montessori yang belum dikenal mayoritas masyarakat di Indonesia. Pemilihan kurikulum dan sekolah untuk buah hati Parents, tentu dikembalikan lagi kepada kebutuhan masing-masing keluarga yaa.

Sebagai rangkuman, saya akan memberi gambaran umum mengenai hal-hal utama yang membedakan penerapan kurikulum Montessori dengan kurikulum sekolah tradisional.

Peran Anak

Dalam kelas Montessori, anak tidak hanya berperan pasif sebagai murid yang mendengarkan arahan atau instruksi guru untuk materi pembelajaran hari ini. Melainkan, tiap hari anak diberi kebebasan untuk memilih akan bekerja dengan material yang diinginkan. Kebebasan ini menjadi salah satu ciri khas yang membuat kelas Montessori berpusat pada anak (child-centered). Anak bebas memilih material di area yang ia tertarik untuk kerjakan atau bahkan jika anak memilih untuk tidak bekerja dan ingin membaca buku saja. Kelas Montessori memfasilitasi hal tersebut.

Beberapa anak bisa mengerjakan material yang sama selama berhari-hari dan hal itu bukanlah masalah. Dr. Montessori percaya bahwa pengulangan sangat penting dalam proses pembelajaran anak. Pengulangan ini membantu saraf di otak berkembang untuk menguasai suatu pembelajaran, membantu meningkatkan konsentrasi, hingga memupuk kemandirian dan kepercayaan diri. Nanti kita bahas di blogpost lain yaa.

Meskipun anak diberi kebebasan, kelas Montessori selalu memiliki aturan dasar (ground rules) sebagai batas agar anak dapat lebih teratur dan disiplin. Freedom with Limitation. Kebebasan yang berbatas. Seperti itulah pandangan Dr. Montessori tentang kebebasan anak. Di antara aturan dasar di kelas Montessori meliputi membawa dan mengembalikan material pada tempatnya, bergantian dalam menggunakan material, menyayangi teman dan guru, berbicara dengan pelan dan sopan, dst. Aturan dasar ini bisa didiskusikan bersama anak-anak terlebih dahulu dan ada juga yang diajarkan oleh guru di kelas, terutama terkait adab dan sopan santun yang akan kita bahas lebih lanjut di Area Keterampilan Hidup.

Selanjutnya, ciri khas kelas Montessori adalah anak yang aktif bekerja menggunakan tangan (hands-on). Kita sudah membahas manfaat bergerak dan bekerja dengan menggunakan tangan di blogpost ini. Dr. Montessori meyakini bahwa pekerjaan yang dilakukan dengan tangan anak membantu proses pemahaman anak dan perkembangan otaknya. Untuk itu, di kelas Montessori, semua material yang disediakan perlu dikerjakan dengan tangan dan juga gerak tubuh. Format kelas Montessori yang tidak memerlukan anak duduk dan mendengarkan penjelasan guru dari awal hari hingga sekolah selesai, memungkinkan anak bekerja dengan tangannya sendiri dengan mandiri dan akan menemukan “Aha Moment“-nya sendiri hingga pemahamannya akan lebih tertanam kuat.

Peran Guru

Jika sudah mengikuti beberapa blogpost sebelumnya hingga kini, Parents mungkin mulai bertanya-tanya bagaimana peran guru di kelas Montessori dan apakah memang peran guru sangat minim di kelas.

Guru di kelas Montessori biasa dikenal juga sebagai Direktis. Sesuai namanya, Direktris lebih banyak berperan sebagai “Pengarah” atau kita sebut juga sebagai fasilitator yang memiliki tugas untuk mendukung proses pengembangan diri anak sesuai tahapan tumbuh kembangnya melalui pembelajaran material Montessori.

Sebagaimana guru pada umumnya, Direktris Montessori juga perlu menempuh pendidikan khusus dan pelatihan intensif mengenai Montessori. Sebab, Direktris ini yang nantinya akan memperkenalkan sekaligus mengajarkan cara penggunaan setiap material Montessori kepada anak muridnya.

Material Montessori yang disediakan di kelas bersifat self-teaching dan self-correcting, jadi anak bisa melanjutkan pembelajarannya sendiri meskipun tanpa pendampingan guru dan bisa langsung memperbaiki kesalahan apabila ia melakukannya sehingga guru tidak bertugas mengoreksi kesalahan anak. Namun, ada kemungkinan material di kelasa bisa jadi disalahgunakan oleh anak (misal: dibanting, dilempar, dipukul, dsb). Untuk itu, Direktris perlu untuk bersikap tegas untuk menghentikan penyalahgunaan material dan mencegahnya terjadi lagi.

Oleh karena itu, setelah memperkenalkan material, Direktris biasanya membiarkan anak lanjut bekerja untuk melakukan observasi atau pengamatan terhadap murid yang sedang bekerja di kelas. Dari hasil observasi tersebut, Direktris akan membuat catatan sebagai dasar penyusunan laporan perkembangan anak. Di akhir periode belajar mengajar, Direktris akan menyampaikan laporan perkembangan anak kepada orang tua dengan memberi catatan apa yang harus dilakukan untuk mendukung perkembangan anak.

Optimalisasi Potensi Anak melalui Kurikulum Montessori

Meskipun masih belum banyak masyarakat yang mengenal sekolah Montessori dan kurikulumnya, sekolah Montessori kini mulai banyak berdiri di kota-kota besar di Indonesia dan cukup banyak murid yang bersekolah di sana.

Praktik Sekolah Montessori (Pengalaman Pribadi)

Sebagai seorang Diploma Montessori sekaligus orang tua dari anak yang bersekolah di sekolah Montessori, saya mengalami sendiri manfaat bagaimana perkembangan anak dapat dioptimalkan di sekolah Montessori.

Apabila dibandingkan dengan beberapa waktu lalu sebelum anak saya sekolah, saya merasakan perkembangan yang cukup signifikan. Dari yang tadinya dependent selalu mau dibantu, anak-4-tahun itu bersemangat untuk menyiapkan baju dan keperluan sekolahnya sendiri. Ketika di rumah, saya pun senang ketika ia mampu mengartikulasikan cerita secara runut tentang peristiwa yang dia alami di sekolah. Anak saya bisa bercerita tentang konflik yang ia alami dengan teman, kegiatan yang dia lakukan, dsb.

Bahkan, meskipun sudah bersekolah dan berkegiatan penuh waktu di sekolah dan daycare, anak saya masih seringkali antusias untuk membaca buku, melakukan eksperimen sains, menggambar, bekerja dengan material Montessori di rumah, dan kegiatan lainnya di rumah.

Berdasarkan pengalaman saya tersebut, menurut saya, lingkungan kelas Montessori yang dipersiapkan (prepared environment) serta kurikulumnya sangat berpengaruh pada perkembangan anak. Lingkungan kelas yang terbuka dan penuh kesempatan bagi anak untuk menjelajahi pembelajaran sesuai minatnya mampu memupuk naluri keinginan belajar anak. Keberadaan guru/direktris yang tidak banyak melakukan intervensi dalam pembelajaran anak juga ideal. Hal ini mendukung anak dengan pertanyaan-pertanyaan pemantik untuk berdiskusi dengan anak. Dengan demikian, rasa ingin tahu (curiousity) anak tidak padam. Dengan kata lain, belajar bukan sesuatu hal yang menakutkan atau tidak seru dalam kelas Montessori.

Gambaran Kelas Montessori

Kelas Montessori yang menggabungkan anak-anak dengan kelompok usia tertentu (3-6 tahun, 6-9 tahun, dst) dan berbaur antargender memiliki dampak positif. Sebab, anak pun belajar berinteraksi dengan anak berusia lain dengan tidak canggung. Anak juga belajar batasan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dengan lawan jenis. Kelas yang bercampur ini juga memungkinkan anak yang lebih besar menjadi pemimpin dan contoh bagi anak yang lebih kecil. Sementara itu, anak yang lebih kecil bisa lebih hormat dan melihat teladan dari kakak-kakaknya.

Selain dalam hal dukungan kognitif dan sosial, sekolah Montessori juga secara tidak langsung mendorong keterampilan anak lainnya yang akan mendukung kesuksesannya di masa mendatang. Hal ini disebabkan Dr. Montessori merancang kurikulumnya dengan sangat teliti dan komprehensif.

Melalui tata letak kelas, peran anak dan guru, serta pembagian area belajar Montessori semua bermuara pada tujuan meningkatkan konsentrasi, kemandirian, kepercayaan diri, citra positif anak, dan membentuk disiplin yang positif bagi anak. Bagaimana tidak, Dr. Montessori tidak hanya mementingkan kebutuhan anak untuk mengasah sensori atau kebutuhan anak untuk berkomunikasi melalui membaca dan menulis, tetapi juga memiliki area tersendiri untuk anak belajar adab dan sopan santun sebagai fondasi di awal pembelajaran, merawat dan menjaga lingkungan sebagai aktivitas kegiatan sehari-hari, menghargai orang lain termasuk guru, teman, orang tua, bahkan tamu.

Itu dia gambaran umum dan manfaat kurikulum Montessori yang bisa saya share saat ini. Sebetulnya masih ada pembahasan tentang Area Montessori yang merupakan bagian dari kurikulum Montessori. Tapi karena blogpost ini sudah cukup panjang kita lanjut di next post ini yaa Parents.

Jadi gimana nih Parents? Udah makin jatuh hati belum sama Montessori? Comment di bawah yaa. Byee!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *