Siapa nih Parents yang lagi H2C alias harap-harap cemas karena anaknya sebentar lagi masuk SD tapi belum lancar membaca?
Banyak Parents yang khawatir meskipun Kurikulum Merdeka saat ini tidak mewajibkan anak untuk bisa membaca, menulis, dan berhitung (calistung) sebagai syarat masuk SD. Sebab, faktanya anak kelas 1 SD sudah dibekali dengan buku tekstual yang padat kata. Dengan demikian, anak perlu memahami keterampilan membaca untuk bisa mengikuti pelajaran.
Jika saat PAUD/TK tidak banyak diajarkan baca tulis, bagaimana anak bisa menguasainya? Nah, di sini peran Parents dibutuhkan. Parents punya peran penting dalam mendampingi anak belajar baca tulis sebagai keterampilan bahasa lanjutan.
Persepsi Tentang Baca Tulis
Menulis bukan hanya tentang menggores huruf demi huruf di kertas dan merangkainya menjadi kata atau kalimat. Membaca juga bukan berlomba menghafal alfabet A, B, C, s.d. Z sejak dini lalu diajari mengeja kayak zaman kita dulu (yang sama tosss!).
i – be u – BU IBU — Be – u – BU de – i – DI BUDI
Namun, cara belajar seperti itu tidak salah yaa Parents, hanya saja ada aspek lain yang perlu kita pahami nih sebagai orang tua. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan penelitian, banyak hal sudah berubah dari 20-30 tahun lalu dan kita sebagai orang tua pun wajib untuk terus belajar sesuai zaman.
Terus, gimana dong kalau gak kita ajarin huruf dari kecil memang nanti anak bisa baca pada waktu mau masuk SD?
Kan kita sudah sekolahkan anak di TK atau PAUD, masa orang tuanya lagi di rumah yang ngajarin membaca dan menulis?
Hehehehe sabar yaa. Pelan-pelan kita set frekuensi kita biar sama dan menyambung yuk. Sebagus apapun sekolah atau institutsi pendidikan anak kita, tetap secara fitrah pendidikan anak berada di tangan orang tua. Apalagi ingat kan, kalau seorang Ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya?
Jadi, walaupun kita sudah menyekolahkan anak, sebagai orang tua kita sepatutnya tidak menyerahkan sepenuhnya proses belajar apalagi hasilnya kepada guru. Sebisa mungkin, orang tua tetap terlibat membersamai anak mencapai milestone atau tahapan keterampilan yang dibutuhkan termasuk membaca dan menulis. Ini dia langkah-langkah yang bisa dilakukan bersama Parents dan anak.
Persiapan Menulis dan Membaca
Rutin Bacakan Buku ke Anak
Bagi anak kegiatan membaca dan menulis bisa jadi hal yang sulit dan rumit. Namun, persepsi mereka bisa jadi berubah jika orang tua atau pengasuh utama anak mengenalkan buku kepada anak sejak dini. Buku anak bergambar fisik yaa Parents yang lebih disukai yaa Parents meskipun sekarang gempuran buku digital dan pilihan video cerita animasi sudah di mana-mana.
Sebab, berdasarkan hasil penelitian ini, anak usia dini yang membaca buku cerita bergambar mengalami konektivitas (keterhubungan) pada jaringan otaknya secara lebih baik dibandingkan dengan anak yang melihat video animasi atau mendengar suara saja. Konektivitas otak ini penting untuk mendukung perkembangan bahasa anak.
Jadi kita tahu ya ternyata buku anak bergambar ini tidak hanya menarik, tetapi juga menjadi media yang sangat penting bagi perkembangan anak utamanya untuk belajar bahasa dengan lebih baik.

Selain itu, berdasarkan pengalamanku, dengan membacakan buku ke anak setiap hari, meski hanya 10-15 menit, akan membuat anak menjadi familiar dengan huruf, kata, dan kalimat. Ia akan familiar dengan kegiatan membaca yang ternyata punya banyak informasi seru, seperti buku dinosaurus, buku planet dan tata surya dsb.
Lambat laun, rasa ketertarikan pada buku akan tumbuh di hati anak. Ia pun memiliki pengalaman yang menyenangkan saat membaca buku, yaitu bonding dengan orang tuanya sekaligus mendengar informasi baru yang menakjubkan untuknya. Tentu ini akan menjadi pintu masuk yang sangat tepat untuk memulai perjalanan baca tulis anak.
Penuhi Kebutuhan Motorik Kasar
Membaca dan menulis adalah keterampilan yang kompleks dan membutuhkan koordinasi yang rumit dari berbagai organ dan otot yang dimiliki anak. Sehingga, sependek ilmu yang saya pelajari dan pengalaman yang saya rasakan, belajar membaca dan menulis dimulai dari BERGERAK dan memenuhi kebutuhan motorik kasar anak berkembang, seperti berlari, berjalan, melompat, berjalan jongkok, dst.
Seperti yang sudah kita pelajari di blogpost ini, bergerak membantu proses belajar anak. Ditambah lagi, bergerak juga bertujuan untuk menyalurkan energi anak yang sering kali full battery dan mematangkan otot-otot besar anak, seperti otot kaki, otot tangan, dan otot punggung.
Dengan demikian, ketika otot-otot tersebut sudah “kenyang” maka kebutuhan motorik kasar anak sudah terpenuhi dan berkembang dengan baik serta energinya pun tersalurkan untuk kegiatan yang menyenangkan.
Lebih lanjut lagi, otot-otot besar yang sudah merasa cukup distimulasi tadi menjadi lebih kuat sehingga dapat membantu kemampuan anak untuk duduk fokus di meja di saat belajar membaca dan menulis.
Otot punggung anak menjadi lebih kuat untuk menopang tulang belakang dan duduk tegak. Otot leher anak menjadi lebih kuat untuk menopang kepala selama duduk. Selanjutnya, otot kaki anak menjadi lebih kuat untuk menopang tubuh duduk di kursi. Otot tangan anak juga menjadi lebih kuat dan siap untuk melakukan gerakan menulis.
Coba Parents perhatikan anak usia dini kerap kali tidak betah untuk duduk berlama-lama di kursi-meja dan cenderung ingin bermain atau berlari. Betul tidak? Kemungkinan besar kebutuhannya untuk bergerak dan stimulasi motorik kasarnya masih kurang.

Tips Bergerak Bersama
Terus apa yang bisa Parents lakukan? Beberapa tips yang bisa dicoba adalah:
- Ajak anak berjalan-jalan (jalan kaki yaa jangan naik motor atau mobil hehe) atau bisa naik sepeda berkeliling komplek.
- Ajak anak main ke taman, misalnya bikin lomba lari sama Parents.
- Lakukan olahraga kesukaan anak, seperti berenang atau bermain bola.
- Bermain lomba tebak hewan dengan menirukan caranya berjalan seperti lompat kodok, jalan miring kepiting, lompat kangguru, lari cheetah, dsb.
- Main ayunan, perosotan, jungkat-jungkit di taman.
Gimana Parents? Gak perlu menyiapkan peralatan yang macam-macam kok, cukup aktivitas fisik di dalam maupun luar rumah. Yang paling penting, kegiatan fisik motorik kasar ini harus dilakukan SETIAP HARI yaa. Hal ini didukung juga oleh World Health Organisation (WHO) menyarankan anak melakukan aktivitas gerak selama satu jam yang bisa dibagi dalam beberapa waktu.
Latih Keterampilan Motorik Halus
Di pendekatan Montessori, keterampilan menulis perlu diasah lebih dulu dibandingkan membaca. Kenapa? Bisa dibaca di laman Area Bahasa yaa. Tetapi intinya karena membaca adalah keterampilan yang sangat kompleks dan melibatkan pemikiran orang lain, tidak seperti menulis yang fokus pada goresan dan pemikiran diri sendiri.
Untuk itu, motorik halus anak juga perlu dikembangkan dengan baik. Sebab, menulis akan memerlukan kekuatan otot jari-jemari dan pergelangan tangan. Apabila motorik halus anak tidak diperkuat dan dilatih dengan baik, ada anak akan mengalami kesulitan menulis di antaranya:
- Kesulitan memegang pensil dengan posisi yang benar dan nyaman.
- Anak akan merasa cepat lelah dan tidak nyaman saat menulis.
- Anak menjadi tidak suka kegiatan menulis karena dianggap tidak menyenangkan.
Untuk menghindari hal tersebut, Montessori memiliki berbagai material di Area Sensori dan Area Bahasa yang bisa melatih motorik halus anak, seperti metal insets, knobbed cylinders, dsb.
Namun, untuk Parents yang tidak memiliki akses ke material tersebut jangan khawatir. Ada banyaaaaak sekali variasi kegiatan mengasah motorik halus anak yang tidak memerlukan banyak bahan dan persiapan, contohnya:
1. Menyendok
2. Bermain playdough (modifikasi dengan pisau tumpul atau cookie cutter)
3. Melukis dengan kuas, cotton bud, merobek/menggunting kertas
4. Kreasi dengan pipet air
5. Meronce





Parents juga bisa memperhatikan apakah anak sudah semakin terampil menggerakkan motorik halusnya. Jika dirasa sudah cukup kuat dan sudah siap, Parents bisa mulai memperkenalkan anak dengan alat tulis atau worksheet untuk anak berlatih membuat goresan.

Sebelum lebih jauh, satu hal yang juga perlu diingat dalam proses baca tulis ini adalah Parents perlu mengelola ekspektasi. Setiap anak bertumbuh dan berkembang dengan kecepatannya masing-masing dan tidak bisa dibandingkan dengan anak lain.
Ada anak yang bisa dengan cepat memegang pensil di posisi yang benar, ada yang lama. Ada anak yang bisa dengan cepat mengikuti pola goresan di kertas worksheet, ada juga yang lama. Semua ada waktunya.
Ingat prinsip bekerja dalam Montessori, anak bisa berhenti menggunakan material jika ia sudah tidak tertarik dan bisa menggunakannya kembali lain waktu jika ia mau. Follow the child. Ikuti anak, ikuti kecepatannya, ikuti minatnya. Jangan dipaksa.
Fonik (Bunyi Huruf) vs. Alfabet
Dalam pendekatan Montessori, pengenalan huruf dilakukan dengan 2 cara, yaitu mengenal bentuk huruf alfabet dengan meraba huruf pada Sand Paper Letter dan mengenal bunyi huruf atau fonik yang biasanya dinyanyikan dalam lagu (contoh lagu fonik montessori bisa dicari di Youtube yaa Parents).
Anak-anak di sekolah atau rumah yang menerapkan Montessori akan lebih sering menyanyikan lagu fonik dan tidak menguasai urutan alfabet dalam lagu ABC seperti metode tradisional yang kita kenal. Lalu sebetulnya apa dan bagaimana sih fonik itu?
Berbeda dengan menghafal alfabet yang mengasosiasikan bentuk huruf A dibaca A, huruf B dibaca Be, huruf C dibaca Ce, huruf D dibaca D, dst, fonik menekankan pada bunyi atau suara dari tiap-tiap huruf di alfabet. Contohnya
Ah ah ah itu bunyi huruf A
Beh beh beh itu bunyi huruf B
En en en itu bunyi huruf N
Kes kes kes itu bunyi huruf X, dst.
Parents bisa melihat contoh pembelajaran fonik dengan menggunakan Sand Paper Letter di video TikTok di bawah ini ya.
Belajar huruf dengan lagu fonik dan menggunakan sand paper letter menjadi cara yang menyenangkan bagi anak. Anak tidak sadar bahwa dirinya sedang belajar suatu proses yang kompleks, yaitu membaca.
Fonik atau bunyi huruf membantu anak untuk memecahkan kode huruf apa saja yang membentuk suatu kata karena dengan mempelajari fonik, secara tidak langsung anak diarahkan pada pengenalan kata secara utuh. Hal ini membantu anak membaca lebih cepat serta mendukung pembelajaran membaca menjadi lebih mudah dan menyenangkan.
Ditambah lagi, melalui pendekatan fonik, tidak hanya membantu belajar membaca tetapi juga dalam jangka panjang bisa mengembangkan pemahaman membaca anak secara lebih kuat.
Dengan mempelajari fonik, anak akan cenderung lebih mudah dan lancar dalam membaca sehingga anak tidak perlu terlalu lama fokus pada setiap huruf yang membentuk kata-kata yang ia baca. Dengan demikan, anak memiliki lebih banyak waktu untuk fokus pada arti atau makna dari apa yang mereka sedang baca.
Semangat Selalu Mendampingi Anak
Itu dia hal-hal yang perlu dikuatkan dalam keseharian Parents dengan anak yaa. Percayalah anak akan bisa membaca dan menulis pada waktunya, tidak terlalu cepat, dan tidak terlalu lambat.
Peran orang tua untuk mendampingi dan melakukan stimulasi agar perkembangan anak optimal untuk menguasa keterampilan yang dibutuhkan. Semoga dengan blogpost ini Parents lebih bisa menjadi lebih terbuka hati dan pikiran bahwa belajar membaca dan menulis bukan semata-mata meminta anak duduk manis di kursi dan mengerjakan worksheet huruf yang banyak.
Namun, penting sekali untuk melakukan penguatan motorik kasar dan motorik harus serta pemahaman fonik yang memadai untuk memudahkan proses belajar anak. Tentunya dengan cara yang menyenangkan.
Untuk lebih lengkapnya tentang material Montessori dan prinsip-prinsip yang bisa digunakan dalam belajar aspek bahasa lanjutan ini bisa diakses di laman Area Bahasa.
See you on the next blogpost! Be sure to drop your comment, question, or any request for next post. Lotta love. Ciao!




