Montessori

Mau Anak Sukses Belajar? Bergerak!

Hai Parents! Di blogpost sebelumnya, kita sudah tercerahkan yaa tentang pemikiran anak yang unik dengan teori The Absorbent Mind.

Prinsip berikutnya yang melandasi pendidikan Montessori adalah pentingnya gerakan dalam proses pembelajaran anak. Tidak heran jika kita melihat sekolah Montessori memiliki layout berupa ruangan yang luas membuat ruang gerak anak menjadi lebih leluasa. Hal ini tentu untuk mendukung pemikiran Dr. Montessori bahwa pembelajaran dapat dikuasai melalui gerak anak.

Sebelum membahas lebih lanjut, saya ingin mengajak Parents bernostalgia kembali ke masa kecil. Kita kunjungi salah satu memori awal kehidupan saat Parents mulai bersekolah pertama kali. Di usia 4-6 tahun, bersekolah di Kelompok Bermain (KB) atau Taman Kanak-Kanak (TK). Apa yang bisa Parents ingat di sekolah? Banyak mainan (perosotan, ayunan, jungkat-jungkit), banyak teman, kesulitan beradaptasi dan menangis karena ditinggal ibu saat kita di kelas. Apa lagi yaa?

Menilik Gerak Anak di Sekolah Konvensional

Mari kita reka ulang bentuk kelas kita sewaktu TK dulu. Di dalam kelas, ada papan tulis di tembok depan sebagai penanda tempat guru berdiri untuk mengajar. Lalu, ada meja dan kursi guru di pojok depan ruangan. Selanjutnya, ada kursi dan meja berwarna-warni menghadap ke arah papan tulis agar murid-murid duduk manis di hadapan guru. Selain itu, ada banyak hasil prakarya murid yang ditempel di tembok atau jendela kelas.

Saat akan masuk sekolah, anak berbaris di depan kelas yang saat diintip terlihat rapi dan menyenangkan. Kemudian, ketika kami masuk apakah semua murid otomatis duduk manis di kursinya? Tentu tidak, saya ingat betul beberapa teman saya masih suka berlari berkejar-kejaran sambil berteriak saat sudah di dalam kelas. Terkadang guru menegur agar semua murid duduk di tempatnya karena pelajaran akan dimulai.

Ya, pelajaran akan dimulai dengan guru menceritakan informasi, menyampaikan pelajaran secara verbal, terkadang mendikte. Murid-murid diminta mendengarkan dan mengingat apa yang disampaikan gurunya.

Belajar alfabet. Guru akan mengajak bernyanyi, lalu menunjuk sambil menyebut nama huruf. Di hari lain, guru akan mengajarkan anak menulis. Guru akan mulai dari corat-coret garis hingga menyediakan kertas kerja untuk menebalkan huruf dan angka. Di hari berikutnya, guru akan membacakan cerit. Ia melanjutkan dengan menulis kata sederhana di papan tulis sebagai stimulasi agar anak mau membaca.

Setiap kegiatan dilakukan secara serentak untuk seisi kelas dengan posisi anak duduk di kursi dan mejanya masing-masing, sedangkan guru yang lebih fleksibel untuk mengubah posisi, terkadang bisa di depan papan tulis atau kadang berjalan memutari kelas untuk memantau anak muridnya.

Dari ilustrasi di atas dan pengalaman saya di sekolah usia dini (dan mungkin juga pengalaman Parents yang sedang membaca), kita tahu bahwa ruang gerak anak sebagai murid cukup terbatas saat berada di dalam kelas sepanjang pelajaran berlangsung. Kebanyakan materi pelajaran yang disampaikan guru juga cenderung konsep abstrak. Contohnya adalah langsung mengajarkan nama alfabet dan menebalkan huruf di worksheet tanpa dimulai dengan konsep konkretnya. Alfabet adalah teori abstrak yang tidak dipahami anak. Tetapi, anak akan mudah mengerti jika diajari hal yang konkret. Di antaranya adalah bentuk huruf yang bisa diraba atau belajar fonik huruf.

Cara mengajar guru juga lebih menitikberatkan pada gaya lecturing (memberi kuliah). Meskipun, para guru juga tetap melibatkan kegiatan dengan tangan, seperti melukis, menggambar, meronce, dsb. Tetapi, kegiatan tersebut masih bersifat kegiatan tambahani jika dibandingkan pada fokus sekolah pada mengajarkan anak untuk membaca, menulis, dan menghitung (calistung).

Model pembelajaran dengan melibatkan anak yang pasif dan tidak bergerak menggelitik Dr. Montessori. Ia berpikir bahwa hal ini merupakan masalah, mengingat idenya bahwa ada keterkaitan erat antara gerak dengan proses pembelajaran. Para psikolog saat ini juga banyak yang sudah melakukan penelitian tentang hal terkait dan hasilnya positif mendukung ide Dr. Montessori.

Hubungan Gerak dan Kognitif

Pandangan Dr. Montessori

Dr. Montessori berpendapat bahwa sangat penting bagi anak untuk bergerak menggunakan tangan dan tubuhnya sejak usia sedini mungkin. Bergerak yang dimaksud juga sebaiknya bukan sekedar gerakan acak, tetapi gerakan yang bertujuan seperti untuk meraih benda. Para peneliti juga menunjukkan hasil penelitian bahwa gerakan yang memiliki tujuan lebih baik daripada gerak acak. Gerak bertujuan disebut memiliki hubungan dengan perubahan pada sistem saraf dalam arti yang positif.

Aktivitas yang melibatkan gerak bertujuan dapat memperkuat tubuh serta berhubungan erat dengan proses perkembangan mental anak, termasuk menumbuhkan kesadaran akan lingkungannya. Dr. Montessori mendorong anak banyak bergerak, bahkan sejak bayi. Bayi disarankan untuk dibekali dengan objek di lingkungan yang dipersiapkan agar dia bisa eksplor dan bergerak dalam prosesnya menguasai gerakan menggenggam dan merangkak.

In order to develop his mind a child must have objects in his environment which he can hear and see. Since he must develop himself through his movements, through the work of his hands, he has need of objects with which he can work that provide motivation for his activity – Dr. Montessori

Bahkan di usia bayi, Dr. Montessori menyarankan agar anak tidur di tempat tidur yang rendah sehingga anak bisa dengan mudah naik-turun kasur dan memiliki ruang gerak yang lebih luas, terutama dibandingkan dengan bayi yang tidur di boks bayi. Lingkungan yang dipersiapkan, misal tempat tidur rendah untuk bayi, rak buku rendah yang mudah dicapai bayi/anak, dan memberi jarak antara mainan dengan bayi yang belum bisa merangkak, akan membuat anak lebih aktif melakukan aktivitas/gerak bertujuan, seperti tummy time sambil membaca buku, mendorong tubuh dengan kaki untuk meraih mainan, merangkak untuk sampai ke tempat tidur, dst.

Untuk anak yang sudah berjalan, Dr. Montessori juga menyarankan untuk mengurangi penggunaan alat bantu gerak, seperti stroller, seminimal mungkin karena ia percaya bahwa anak dapat berkembang dengan baik jika mereka memiliki kebebasan untuk ekplorasi lingkungan sekitarnya. Duduk di kursi dan meja kecil juga lebih disarankan dibandingkan dengan makan di high chair karena anak perlu dibantu oleh orang tua untuk menggunakannya. Dengan menyediakan furnitur berukuran kecil, anak bisa bebas bergerak dengan tujuan menggunakan furnitur ia pun akan belajar mengontrol gerakannya supaya tidak terbentur.

Gerak dalam Area Keterampilan Hidup

Berlanjut ke usia prasekolah, Dr. Montessori menyiapkan suatu area kegiatan yang merupakan fundamental atau dasar dari kegiatan Montessori lainnya, yaitu Area Exercise of Practical Life (EPL) atau Area Latihan Kehidupan Sehari-Hari. Berbagai kegiatan dari area ini merupakan aktivitas dengan gerak bertujuan, sebagai contoh adalah menyiram tanaman (anak belajar menyiram sejumlah air yang tepat ke tanaman agar tetap hidup), membersihkan meja ketika menumpahkan air saat bekerja, menyapu lantai yang kotor setelah bekerja, dst.

Tujuan Dr. Montessori menyiapkan dari Area EPL di dalam kelas pembelajarannya di antaranya adalah:

  1. melatih gerakan anak agar sesuai dengan tujuan;
  2. mengembangkan kemampuan anak untuk berkonsentrasi;
  3. membantu anak belajar melakukan serangkaian langkah secara berurutan; dan
  4. membantu anak belajar peduli terhadap lingkungan.

Ketika anak melakukan kegiatan di area EPL, seperti membersihkan meja yang basah, tujuannya bukan membuat meja menjadi bersih, melainkan anak berlatih untuk bergerak secara tepat mengenai titik yang basah, anak berkonsentrasi menggerakkan lap di tangan sambil mengamati dengan matanya apakah mejanya sudah kering. Anak pun berlatih berpikir pada saat air tumpah di meja apa yang harus dilakukan pertama kali, apakah memainkannya dengan tangan atau mengambil lap/tisu, lalu langkah apa berikutnya.

Lebih lanjut lagi, seluruh material Montessori yang disusun sedemikian rupa di kelas-kelas Montessori juga menunjang anak untuk melakukan gerak bertujuan. Dengan kata lain, Dr. Montessori mengintegrasikan gerakan dalam keseharian anak di kurikulum pendidikannya.

Dr. Montessori berpandangan bahwa melalui gerak tangan dan tubuh, seiring bertambah umurnya menuju ke usia sekolah, anak sudah mengembangkan mentalnya secara lebih matang, sudah dapat berkonsentrasi lebih fokus, dan lebih peduli kepada lingkungannya. Hasil tersebut dimulai dari gerak bertujuan yang dilakukan secara konsisten di kesehariannya.

Hasil Penelitian yang Mendukung Ide Dr. Montessori

Beberapa hasil studi/penelitian juga mendukung ide Dr. Montessori mengenai pemahaman akan ruang dan objek benda menjadi lebih baik ketika melibatkan gerakan. Ada penelitian dari Elinor Ochs (seorang antropologis) dan koleganya yang menunjukkan bahwa orang-orang cenderung untuk bergerak/melakukan gesture lebih banyak ketika mereka harus menyampaikan hal yang lebih rumit. Sebab, beberapa orang percaya bahwa gesture dapat membantu proses berpikir selayaknya fungsi komunikasi.

Selanjutnya, seperti yang sudah dibahas sedikit dalam blog post The Absorbent Mind sebelumnya, ingatan seseorang akan mulai terbentuk dan berkembang ketika seseorang mulai bergerak. Ketika seorang anak mulai bergerak secara selaras dengan apa yang dipikirkan dan dilakukannya, memori kehidupannya mulai berjalan. Banyak penelitian yang juga mendukung ide ini. Di antaranya, Noice, Noice, & Kennedy di tahun 2000 menunjukkan hasil penelitian bahwa aktor terbukti mampu mengingat dialog yang mereka ucapkan dengan lebih baik saat bergerak di atas panggung dalam periode lima bulan setelah pementasan terakhir dibandingkan dengan dialog yang mereka ucapkan saat berdiri di satu tempat.

Banyak studi mengungkapkan bahwa ada keterkaitan erat antara gerakan dan kognisi. Ketika seseorang bergerak sejalan dengan apa yang mereka pikirkan atau pelajari, ia mampu menggambarkan ruang dan objek dengan lebih tepat, membuat keputusan lebih cepat dan akurat, serta mengingat informasi dengan lebih baik.

Anak Bergerak, Anak Belajar

Setelah membaca penjelasan bahwa ada hubungan nyata antara gerak dan perkembangan kognitif anak, mari kita sebagai orang tua pun mengupayakan untuk memberikan ruang gerak yang cukup bagi anak.

Walaupun bergerak merupakan salah satu elemen utama dalam pendidikan Montessori, menurut pendapat saya, tidak perlu sampai menyekolahkan anak di sekolah Montessori atau memaksakan membangun prepared environment (lingkungan yang dipersiapkan) di rumah, apabila memang tidak dimungkinkan. Meski anak bersekolah di sekolah konvensional, meski rumah yang kita huni saat ini masih minimalis, meski kita belum memiliki taman/ halaman bermain di rumah, mengupayakan anak untuk bergerak masing sangat dimungkinkan.

Melalui Area EPL, kita bisa ajak dan dampingi anak untuk melakukan kegiatan keseharian di rumah. Ayah dan Ibu bisa bergantian berbagi peran dalam melakukan kegiatan EPL. Seperti misalnya, Ibu mendampingi anak untuk memasak dan juga mencuci pakaian. Sedangkan, Ayah mendampingi anak untuk mencuci kendaraan dan mencuci sepatu.

Memastikan anak cukup bergerak di pagi hari sebelum memulai aktivitas yang membutuhkan konsentrasi juga bisa menjadi strategi yang baik. Ajak anak untuk berjalan berkeliling komplek, lomba lari dengan anak di taman terdekat, main berbagai jenis lompat hewan dengan anak, dan lainnya sesuai kreativitas Parents.

Harapannya dengan kita memfasilitasi anak untuk bergerak secara leluasa, anak pun bisa bertumbuh dan berkembang secara optimal sesuai milestone-nya. Tidak hanya dari aspek fisik tetapi aspek mentalnya juga sehingga kelak anak-anak kita nanti dapat tumbuh dewasa menjadi manusia utuh yang bisa menjadi rahmat semesta alam. Aamiin.

Semangaaaat yaa Parents semua! Ayo ajak anak bergerak!

*Disclaimer: Sebagian isi blog ini diambil dan diolah kembali dari buku berjudul Montessori: The Science Behind the Genius oleh Angeline Stoll Lillard dan saya menceritakannya kembali kepada Parents karena menurut saya isi dari buku ini keren dan worth it untuk disebarkan secara luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *