Di artikel lainnya, kita sudah membahas tips and trick untuk belajar baca tulis pada anak usia dini sebagai persiapan untuk memasuki sekolah dasar. Selanjutnya, melalui blogpost ini, kita akan menjelajahi lebih dalam tentang area bahasa Montessori.
Seperti yang telah kita baca sebelumnya, proses membaca dan menulis merupakan proses yang kompleks. Namun, area ini, menurut saya pribadi, menjadi area yang menyenangkan bagi anak untuk belajar bahasa di tahap lebih lanjut. Berbagai material di area ini benar-benar dipikirkan dengan cermat untuk mendukung pembelajaran, mulai dari hal yang konkret lalu ke hal yang abstrak.
Pandangan Montessori tentang Baca Tulis
Jika kita masuk ke dalam ruang kelas sekolah Montessori, kita tidak akan menemukan poster alfabet A sampai dengan Z menempel di dindingnya. Alih-alih, sama seperti di area lainnya di kelas, kita akan melihat anak bekerja dengan material yang unik, mungkin tidak familiar bagi orang dewasa. Anak-anak di sekolah Montessori belajar calistung menggunakan pendekatan yang berbeda dengan sekolah konvensional. Di bawah nanti kita akan membahas lebih lanjut ada material apa saja yaa di Area Bahasa.
Sebelum itu, pada dasarnya, di kelas Montessori persiapan membaca lebih banyak dilakukan di Area Sensorial dengan materialnya seperti yang sudah kita bahas sebelumnya di sini. Namun demikian, Direktris di kelas bisa mulai mengajarkan dan memperkenalkan material di Area Bahasa anak mulai usia 3 tahun, khususnya material untuk melatih menulis.
Kenapa begitu? Karena pendekatan metode Montessori lebih mendahulukan untuk mengembangkan keterampilan anak untuk menulis baru setelah itu keterampilan membaca.
Mengapa demikian?
Menulis Dulu Baru Membaca
Jika kita lihat lagi, membaca adalah kegiatan yang lebih rumit dan membutuhkan tahap perkembangan yang lebih sulit dibandingkan menulis. Saat membaca, anak perlu melakukan banyak hal sekaligus:
- Mengidentifikasi bentuk huruf satu per satu;
- Memahami bunyi gabungan huruf dalam suku kata yang kemudian membentuk kata dan kalimat;
- Membunyikan/ melafalkan bunyi kata dan kalimat secara utuh;
- Memahami arti dan maksud dari kata/ kalimat pemikiran orang lain yang kemudian ia baca.
Contoh seorang anak membaca buku cerita: “Ibu beli gula di toko”.
Tidak hanya anak harus mampu melafalkan bunyi kalimat tersebut dari awal sampai akhir, anak juga harus punya pemahaman konteks kalimatnya. Anak perlu paham pesan yang Si Penulis coba sampaikan. Anak perlu paham bahwa yang dibaca adalah tentang seorang ibu (perempuan dewasa) yang berada di toko untuk membeli gula.

Berbeda dengan membaca, menulis tidak melibatkan pemikiran orang lain. Menulis adalah kegiatan menuangkan gagasan yang dimiliki seorang anak dalam bentuk goresan huruf yang membentuk kata dan kalimat.
Nah, menulis yang dimaksud dalam Montessori juga bertahap ya Parents. Di awal anak akan belajar menulis dengan menuangkan pikirannya ke dalam simbol huruf melalui material di Area Bahasa.
Contoh: anak melihat boneka sapi, ia pun ingin bisa menulis sapi. Maka, dengan pengetahuan foniknya, ia mulai mengidentifikasi bunyi masing-masing huruf SAPI dan mengambil huruf yang membentuk katanya.
Sss-Ahh-Peh-Ihh >>> anak pun mengambil huruf S A P I dari large moveable alphabet.
Lalu, di tahap berikutnya, anak yang memiliki keterampilan motorik halus untuk memegang alat tulis, menggoreskan simbol huruf, mampu membedakan huruf serta menganalisis suara/fonik sudah bisa untuk menulis hal bermakna.
Contohnya, seorang anak merasa sedih setelah ia melihat mainannya rusak.
Anak usia dini atau balita sudah bisa menuliskan perasaannya lewat goresan dalam bentuk gambar menyerupai emoticon wajah yang sedih. Sementara itu, anak yang usianya sudah lebih besar seperti usia 5-6 tahun bisa menulis “Aku sedih” di selembar kertas.
Selanjutnya, anak tidak perlu memproses makna dari tulisan yang ia buat karena gagasan tulisannya adalah ekspresi murni dari pengalamannya pribadi.
Tentang Area Bahasa Montessori
Area Bahasa menyajikan material untuk mendalami pembelajaran bahasa untuk anak. Untuk dapat menguasai keterampilan bahasa membaca dan menulis, anak perlu memiliki seperangkat kemampuan yang komplek.
Kemampuan yang mulai dari kemampuan pendengaran untuk menganalisis bunyi huruf (fonik), keterampilan motorik di alat ucap kita (mulut, lidah, tenggorokan, dan paru-paru), kemampuan memegang pensil, dan kemampuan membedakan huruf serta kemampuan intelektual untuk memahami kata-kata.
Secara teknis, terdapat tiga material dasar dalam area ini, yaitu Metal Insets, Sand Paper Letters, dan Large Moveable Alphabet (LMA). Dalam blogpost ini akan dibahas mengenai tiga material tersebut. Sementara itu, untuk material lain secara lebih rinci seperti Pink, Blue, dan Green Series serta permainan bahasa lainnya akan dibahas di blogpost berikutnya yaa.
Metal Insets
Setelah mengetahui pendekatan Montessori yang lebih mendahulukan keterampilan menulis dibandingkan membaca, kita dapat memahami filosofinya dengan lebih baik saat melihat material area bahasa Montessori. Salah satu material yang paling awal diperkenalkan Direktris kepada muridnya adalah Metal Insets.

Metal insets terdiri dari 10 buah bentuk geometri yang terbuat dari bahan plastik, kayu, atau logam yang masing-masing memiliki bingkai. Bentuk geometrinya berupa Lingkaran, Persegi panjang, Segitiga, Pentagon, Trapesium, Bujur sangkar, Oval, Segitiga lengkung, Quatrefoils, dan Elips.
Tujuan dari material ini adalah mengembangkan otot jari anak untuk memegang pensil yang benar, mengembangkan kontrol fleksibilitas gerakan, dan memberi pengalaman membuat goresan ke berbagai arah.
Cara kerja Metal Insets bisa bervariasi. Di antaranya adalah anak menggambar bentuk mengikuti bingkai Insets dengan pensil warna. Lalu ia mengisi bentuk yang sudah digambar dengan menarik garis dari satu sisi ke sisi lainnya dengan menggunakan pensil warna yang lainnya. Selain itu, anak juga bisa mengkombinasikan dua bentuk geometri untuk membuat desain.
Sand Paper Letters
Apabila Direktris menilai anak sudah siap atau anak sudah menunjukkan ketertarikan pada huruf, Direktris dapat mengajak anak untuk belajar menggunakan Sand Paper Letters (SPL) yang bisa dibeli di sini. SPL berbentuk 26 papan yang di atasnya dibuat huruf dari kertas amplas yang timbul dan bertekstur, berwarna pink untuk huruf konsonan dan biru huruf vokal.
Anak bekerja dengan meraba tiap-tiap bentuk huruf di SPL, satu huruf dalam satu waktu. Setelah meraba huruf, anak juga akan diajari bunyi huruf (fonik) dari setiap huruf dan mencoba dengan mengulanginya. Contoh anak bekerja dengan SPL bisa dilihat di video TikTok ini:
SPL ini bertujuan untuk melatih otot tangan terhadap bentuk huruf, mengasosiasikan suara fonik dengan huruf, serta membangun kesan visual untuk mengingat bentuk huruf. Hal ini sejalan dengan pendekatan Montessori yang meyakini “What hand does, the mind remembers” dan untuk memulai pembelajaran dari hal konkret ke hal abstrak.
Large Moveable Alphabet (LMA)
Material ini juga digunakan untuk memperkenalkan anak kepada bentuk huruf dan kemudian berlatih menyusunnya menjadi kata. LMA dikemas dalam satu kotak besar dengan banyak sekat yang berisi bentuk huruf-huruf yang biasanya terbuat dari kayu. Huruf pada LMA memiliki dua warna, biru untuk huruf vokal dan merah untuk huruf konsonan.
Setelah memahami bentuk huruf dari SPL, seorang anak dapat diperkenalkan dengan LMA. Hal ini bertujuan untuk mengevaluasi ingatan anak tentang huruf untuk membentuk kata-kata dan selanjutnya berlatih untuk menyusun kata-kata serta kalimat.
Variasi penggunaan LMA juga beragam. Di antaranya anak dapat bekerja dengan mengombinasikan LMA dan SPL, yaitu mencocokkan huruf-huruf LMA yang sama dengan SPL. Selain itu, anak juga bisa bekerja membentuk kata dengan LMA berdasarkan bunyi huruf (fonik) yang dibacakan oleh Direktris. Serta masih banyak lagi variasi lainnya, nanti kita bahas lebih lanjut yaa.
Area Bahasa Montessori Membuat Belajar Jadi Seru
Nah Parents, Area Bahasa ini merupakan area yang cocok untuk dijelajahi anak usia 3-6 tahun untuk mengasah keterampilan membaca dan menulisnya.
Jika seringkali saya temui Parents yang merasa kesulitan mengajarkan anak baca tulis, saya yakin dengan metode Montessori proses belajar akan menjadi lebih menyenangkan dan lebih dipahami. Hal ini berdasarkan pengalaman saya sendiri yang mendampingi anak belajar dengan metode Montessori. Alhamdulillah proses belajar baca tulis menjadi lebih mudah dan menyenangkan serta tentunya memiliki tingkat keberhasilan yang memuaskan.
Kalau Parents punya pertanyaan atau pengin diskusi tentang isu spesifik atau cara-cara praktis baca tulis di rumah sesuai Montessori, boleh drop di kolom komentar yaa. Ciao!




