
Saya selalu percaya untuk bisa percaya dan mengaplikasikan suatu hal, saya harus mengenal dulu latar belakang dan cerita yang membentuk hal tersebut. Sama seperti Montessori, saya tidak tiba-tiba merasa cocok dengan metode Montessori hanya dari melihat apparatusnya yang menarik, melihat kelas Montessori diisi dengan anak-anak yang teratur, atau sekadar mengikuti tren kekinian.
Sebelum saya mempraktikkan Montessori di rumah sejak anak saya berusia 1 tahun hingga kini mempercayakan anak saya di sekolah Montessori, saya membaca cukup banyak literatur tentang Montessori, yang untungnya sudah banyak bacaan berbahasa Indonesia juga. Saya jatuh cinta pada cara Dr. Montessori memandang anak sebagai pelaku aktif dalam pendidikan, bagaimana Dr. Montessori mendesain secara cermat kurikulum dan material yang membuat anak tidak merasa sedang belajar hal yang berat.
Di balik itu semua, ada filosofi dari Dr. Montessori yang masih relevan hingga saat ini karena meskipun diusung lebih dari seabad lalu, para psikolog modern dan riset psikologi setelah Dr. Montessori wafat banyak yang mendukung ide dan penemuan hasil kerjanya. Mungkin ini akan saya bahas dalam blog lain yaa. Kali ini kita akan mulai mencicil membahas filosofi Montessori.
Pikiran yang Mudah Menyerap
“The child has a type of mind that absorbs knowledge and instructs himself. A superficial observation will be sufficient to show this.” – Maria Montessori (The Absorbent Mind)
Salah satu penemuan utama atau boleh dibilang sebagai filosofi dari Montessori adalah the Absorbent Mind (Pikiran yang Mudah Menyerap) yang dimiliki anak. The Absorbent Mind juga menjadi judul buku Dr. Montessori yang merupakan hasil analisa dari penelitiannya terhadap aspek fisik dan psikologis anak dalam periode yang paling penting dalam kehidupan anak (0-6 tahun).
Dr. Montessori dan Ide The Absorbent Mind
Dr. Montessori dengan ide the Absorbent Mind percaya bahwa anak usia dini (0-6 tahun) memiliki cara belajar yang sangat berbeda dari orang dewasa. Otak anak memiliki kemampuan menyerap seperti spons. Di awal kehidupan, anak belajar dengan menyerap pengetahuan yang terjadi di lingkungannya dengan mudah (effortless) dan secara terus-menerus (continuously) sehingga mampu menguasai hal-hal yang perlu dia lakukan.
Dalam bukunya, Dr. Montessori mencontohkan Pikiran yang Mudah Menyerap bagi seorang anak terjadi di awal kehidupannya. Anak merespon rangsangan yang diperoleh dan menyerapnya. Anak memiliki kemampuan belajar dan melakukan dengan upaya sendiri untuk berbicara, berjalan, bahkan memahami budaya tempat ia tinggal. Dengan demikian, menurut Dr. Montessori, bukan orang tua Si Anak yang mengajari anak hingga dia bisa bicara, misalnya.
Namun, karena Absorbent Mind yang dimiliki anak lah yang membuat anak dapat menyerap kosakata dan tata bahasa di dengarnya, di mana pun lingkungan dia berada. Lalu, ketika anak memahami makna suatu kata bersama dengan konteks dan emosi yang mengikutinya, dia perlahan mengembangkan kemampuan berkomunikasi. Dr. Montessori juga berpendapat bahwa kemampuan anak menguasai sesuatu ini bukanlah sesuatu yang diwariskan dari orang tua. Jika Si Anak dibesarkan di keluarga berbahasa Inggris meskipun ia berdarah Indonesia, dia akan tetap menyerap kemampuan berbahasa Inggris berdasarkan lingkungannya.
Dalam bukunya, The Absorbent Mind, Dr. Montessori menyampaikan bahwa segala sesuatu yang dilakukan oleh anak dilakukan secara tidak sadar (unconscious) di awal kehidupan lalu anak mulai bergerak dan mengembangkan pikiran sadarnya (conscious mind) dalam melakukan berbagai hal. Lebih lanjut lagi, Dr. Montessori menyebut anak berkembang dari seorang Unconscious Creator menjadi Conscious Worker.
Periode I: Periode Tidak Sadar (Unconscious) pada 0-3 Tahun

Fase awal pengembangan anak yang pertama terjadi sejak seorang anak lahir sampai dengan ia berusia 3 tahun. Pada periode ini, anak belajar dengan cara menyerap pengetahuan dari lingkungannya tanpa sepenuhnya menyadari apa yang sebenarnya terjadi sehingga kerap disebut dengan periode Unconscious.
Pada periode ini, banyak sekali peristiwa yang terjadi bagi seorang anak. Meskipun demikian, apa yang terjadi sepanjang periode ini sangat sulit, jika tidak dibilang hampir mustahil, untuk dapat diingat. Coba Parents flashback deh kapan memori paling awal kehidupan yang Parents bisa ingat? Kemungkinan kenangan mulai di usia di atas 3 tahun, sedangkan di periode baru lahir sampai dengan 3 tahun hampir tidak ada memori tersisa.
The Forgotten Period
The forgotten period, begitu Dr. Montessori menyebut periode ini dalam bukunya. Di fase ini, anak masih dalam tahap membangun kepribadiannya. Anak baru belajar membangun kesadaran dirinya sebagai individu yang memiliki kemampuan terintegrasi. Lebih lanjut lagi, ia menjelaskan mengapa kita bisa melupakan kejadian di periode awal kehidupan ini karena perkembangan anak di fase ini masih terjadi secara terpisah di masing-masing aspek.
Misalnya, anak belajar menggunakan dan menguatkan ototnya untuk menggerakkan tangan, menggapai benda, duduk, merangkak, hingga berjalan. Anak memperhatikan mulut orang dewasa untuk mempelajari bahasa. Selanjutnya, anak berinteraksi dengan orang tua, saudara, dan orang lain sambil memperhatikan bagaimana interaksi sosial, bagaimana perasaan yang timbul, hingga memahami aturan sosial yang ada. Dia akan menyerap pengetahuan yang ada di lingkungannya sehingga ia bisa meniru apa yang dilakukan orang tua dan orang di sekitarnya.
Semua bagian di tubuh anak yang semula belum menguasai apapun satu per satu berkembang masing-masing tetapi tidak sebagai satu kesatuan kepribadian yang utuh karena kesadaran anak yang belum terbentuk sepenuhnya. Saat ini, menurut Dr. Montessori adalah saat penciptaan dan pembangunan (creation and construction) dari perkembangan fisik dan mental anak.
Dr. Montessori menekankan bahwa selama periode unconscious orang tua atau orang dewasa pengasuh utama lainnya harus mengasuh anaknya secara penuh karena anak belum mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Peran orang tua untuk mendukung perkembangan anaknya pun ditekankan agar anak dapat tumbuh sesuai dengan milestone-nya.
Periode II: Periode Sadar (Conscious) pada 3-6 Tahun

Periode ini merupakan masa ketika tubuh dan indera anak sudah berkembang, masing-masing bagian dapat saling terhubung untuk saling mendukung kerja satu sama lain. Di usia 3 tahun, anak mulai mencapai kesadaran akan dirinya, kepribadiannya, dan lingkungannya. Di periode kedua ini, anak menyadari kebedaraan lingkungannya melalui apa yang dikerjakan tangannya. Dengan terbentuknya kesadaran anak, memori akan peristiwa yang terjadi di periode ini pun mulai terbentuk.
Lebih lanjut lagi, anak usia 3-6 tahun sudah mengembangkan kemandiriannya. Ia sudah memiliki kemampuan bertahan dan membela dirinya sehingga apabila ada hal atau orang yang tidak disukainya, emosi anak bisa meledak dan menjadi tantrum. Sebab, ini merupakan periode saat anak mengikuti keinginannya sendiri, tidak seperti di periode unconscious saat anak lebih banyak mengamati.
Di periode ini, anak juga mengalami perkembangan utamanya dalam hal menyempurnakan keterampilan yang sebelumnya sudah dimiliki. Misalnya, saat usia 2,5 tahun anak sudah bisa bicara tetapi di usia 4 sampai 5 tahun anak terus mengembangkan kemampuan bicara dan berkomunikasi dengan lebih kompleks. Yang tadinya bisa menaiki sepeda roda tiga, menjadi bisa belajar dan menguasai berkendara sepeda roda dua di periode ini.
Meskipun anak sudah memasuki periode sadar, Dr. Montessori mengungkapkan bahwa fase the absorbent mind masih terus berlangsung. Hanya saja, di periode kedua ini anak berkembang menyempurnakan keterampilan melalui kedua tangan dan pengalamannya. Apalagi di usia ini, anak memiliki kecenderungan untuk menyentuh segala sesuatu dengan tangannya. Dr. Montessori percaya bahwa tangan merupakan anggota tubuh yang penting dan berhubungan dengan kepandaian anak dalam menguasai suatu hal.
Contoh Concious Period Sehari-hari
Sebagai contoh, anak saya yang berusia 4,5 tahun suka membaca buku sendiri. Suatu hari, saya memerhatikan ternyata anak saya bisa membaca dengan intonasi yang beragam. Dia tahu saat kalimat diikuti tanda titik maka ia membuat intonasi rendah bersiap berhenti. Dia juga bisa meninggikan intonasi ketika ada kalimat pertanyaan.
Kagum, saya pun makin meyakini teori the Absorbent Mind ini. Sebab, semasa saya mengenalkan fonik hingga mengajarkan membaca, saya tidak pernah mengajarkan anak saya secara langsung tentang intonasi yang dinamis. Akan tetapi, saat sesi membaca buku bersama anak, saya selalu membaca dengan suara sambil menunjuk kalimat yang saya baca sambil saya modifikasi intonasi dan gaya membacanya. Voila! Anak menyerap dengan cepat dan meniru begitu mudahnya ketika mereka diberi stimulasi yang tepat. Masya Allah.
Yang Harus Orang Tua Perhatikan
Di usia ini, anak-anak dapat menunjukkan perasaannya secara terbuka. Saat melakukan pekerjaan dengan tangannya anak bisa menunjukkan konsentrasi dan ia terlihat senang serta bersemangat. Anak usia 3-6 tahun ini sangat eksploratif. Ia penuh dengan rasa ingin tahu. Ia senang aktif bekerja dengan hal-hal yang diminatinya.
Pada periode ini, orang tua perlu memastikan adanya prepared environment atau lingkungan yang dipersiapkan untuk anak. Lingkungan ini memastikan tidak ada benda berbahaya di sekitar anak dan material yang disiapkan untuk bekerja juga aman serta mendukung perkembangan anak. Dengan menyediakan prepared environment, orang tua juga menghindari drama terlalu banyak melarang anak menyentuh ini-itu karena lingkungan yang pasti aman dan mendukung anak bekerja dengan menyenangkan.
Penutup
Semakin saya mendalami membaca tentang Pikiran yang Mudah Menyerap ini, semakin saya merenung. Bukan untuk meyakini kebenaran pemikiran Dr. Montessori, tetapi untuk memaknai bahwa sejatinya betul, kita sebagai orang tua kadang, jika tidak dibilang seringkali, merasa entitled (berhak) untuk mengeklaim bahwa keberhasilan anak adalah keberhasilan orang tua dalam mengajarinya.
Meski benar ada porsi orang tua yang memberikan pengajaran awal, memberi contoh, memberi pemahaman, tetapi pada akhirnya kemurahan hati Allah SWT Tuhan YMK yang membimbing anak kita untuk mampu mengeluarkan potensi dalam dirinya hingga Si Anak bisa berbicara, berjalan, dan menguasai banyak hal lainnya.
Maka dari itu, sebagaimana anak yang selalu penasaran untuk belajar hal baru, sudah sepatutnya kita sebagai orang tua juga terus belajar agar bisa membersamai anak dalam bertumbuh dan berkembang secara optimal yaa Parents. Sampai jumpa di blog selanjutnya.
Sumber:
Montessori, M. 2013. The Absorbent Mind.
Gambar sampul buku The Absorbent Mind diambil dari:
https://www.google.co.id/books/edition/The_Absorbent_Mind/4OrsAgAAQBAJ?hl=en&gbpv=1




