Halo Parents! Di blogpost ini kita akan mengulik tentang area matematika Montessori yaa. Seperti area lainnya, area ini mendukung proses belajar anak melalui berbagai material yang bertujuan untuk mengenal angka dan juga cara memahami konsep berhitung.
Bagi banyak anak, termasuk yang sudah tumbuh menjadi orang dewasa, berpikir bahwa Matematika merupakan momok atau hal yang menyeramkan dan kurang menyenangkan. Hal ini bisa disebabkan oleh persepsi kita kalau belajar matematika di sekolah itu rumit, terlalu banyak angka. Bisa juga karena ragu apa manfaatnya belajar rumus sin, cos, tan atau rumus-rumus bangun ruang untuk kehidupan dewasa kelak.
Ada banyak faktor yang membuat kita tidak berteman baik dengan matematika. Namun, saya tidak akan membahas hal tersebut ya Parents melainkan saya ingin bahas tentang mempelajari matematika dasar dengan lebih menyenangkan. Tentunya dengan cara yang relate bagi anak-anak melalui metode belajar Montessori.
Daftar isi:
Sekilas tentang Matematika
Sebelum lebih jauh membahas tentang Area Matematika di Montessori, saya mau ajak Parents untuk bersama-sama memikirkan jawaban dari beberapa pertanyaan berikut:
- Apakah Parents mengalami kesulitan saat belajar Matematika di bangku sekolah?
- Pernahkah Parents berpikir bahwa tidak banyak manfaat belajar Matematika di kehidupan dewasa saat ini?
- Apakah Parents ingin anak-anak mahir Matematika tapi melalui pelajaran dari guru di sekolah atau tempat lesnya saja karena Parents merasa akan kewalahan jika mengajarinya sendiri?
Jika Parents menjawab “Ya” pada setidaknya lebih dari satu pertanyaan, mungkin Parents termasuk dalam kelompok yang memiliki pengalaman kurang menyenangkan dalam belajar Matematika. Tetapi tak perlu risau, kita akan bersama-sama memecahkan persepsi Matematika itu sulit melalui metode Montessori.
Manfaat Matematika dalam Kehidupan
Parents tahu gak? Sebetulnya di dunia ini, saat ini, Matematika banyak digunakan untuk berbagai aspek kehidupan. Dr. Montessori pernah berkata bahwa matematika merupakan salah satu dasar yang membentuk peradaban manusia. Yuk tebak-tebakan, apa saja nih yang berkaitan dengan Matematika di kehidupan sehari-hari?

Yak betul, gawai canggih yang ada di hadapan kita, seperti laptop, komputer, tablet, dan telepon pintar, merupakan perangkat matematika. Mulai dari proses perencanaan, desain, dan produksi gawai banyak menggunakan perhitungan Matematika.
Pengelolaan gaji tiap bulan dengan membuat pos-pos pengeluaran agar mencukupi kebutuhan keluarga tentu menggunakan konsep matematika.
Pemilihan moda transportasi ke kantor, apakah mau menggunakan ojek online, mobil pribadi, atau kendaraan umum juga dipengaruhi Matematika karena kita menghitung biaya, waktu, dan jarak tempuh. Lalu membandingkannya dan memilih yang paling efisien.
Bahkan sesederhana kegiatan belanja di warung, pasar, atau minimarket adalah kegiatan matematika yang melibatkan perhitungan Matematika atas uang yang harus dibayar
Tentu masih banyak contoh penerapan dan manfaat Matematika lainnya, mulai dari yang paling sederhana hingga yang paling rumit seperti pengembangan teknologi dan robotik.
Lebih lanjut lagi, proses pembelajaran Matematika sebetulnya tidak hanya bermanfaat secara umum dalam bentuk aktivitas dan produk tertentu seperti di atas. Belajar matematika juga dipandang penting untuk mengembangkan keterampilan individu di antaranya dalam hal:
- Mengasah kemampuan memecahkan masalah (problem solving);
- Meningkatkan ketelitian;
- Mempertajam kemampuan berpikir kritis;
- Meningkatkan rasa disiplin.
Area Matematika untuk Usia Prasekolah
Nah ternyata memang Matematika tuh sepenting itu ya Parents. Maka dari itu, sebagai orang tua tentu kita perlu membekali anak dengan kemampuan dasar ini ya.
Namun, belajar matematika bagi anak usia prasekolah (4-6 tahun) terdengar begitu serius dan berat. Setuju nggak Parents? Apalagi sekarang persyaratan bagi anak yang mau masuk ke sekolah dasar (SD) tidak diwajibkan bisa membaca, menulis, dan berhitung (calistung) ya. Jadi, apakah tepat untuk mengajarkan anak usia prasekolah matematika?
Matematika merupakan konsep yang abstrak dan memerlukan sistem logika berpikir. Dr. Montessori melihat bahwa sistem pembelajaran tradisional yang mengajarkan Matematika dalam bentuk kertas kerja (worksheet), buku tekstual, dan papan tulis membuat banyak siswa kesulitan belajar matematika.

Namun demikan, alih-alih menggunakan logika dan analisis dalam memecahkan masalah Matematika, banyak siswa yang hanya belajar dengan menghafal. Padahal anak yang menghafal seringkali memiliki pemahaman yang rapuh dan tidak mendalam.
Sebagai solusi, Montessori mengenalkan anak belajar berhitung dengan menggunakan material yang konkrit, yaitu material yang bisa dipegang, dirasakan, dan memiliki visual/grafis untuk memperjelas konsep abstrak. Dengan menggunakan material konkrit, belajar matematika akan lebih menyenangkan dan mudah diikuti anak usia prasekolah.
Montessori juga sudah memikirkan persiapan tidak langsung matematika melalui Area Sensori, Area Keterampilan Hidup, dan Area Bahasa karena material di area ini didasarkan pada Matematika. Di tiga area ini, anak akan belajar menumbuhkan keteraturan serta menyelesaikan siklus kerja yang penting untuk pemahaman konsep matematika. Bekerja di area tersebut juga mengembangkan kemandirian, konsentrasi, dan memungkinkan anak untuk belajar secara mandiri dan menyelesaikan tugasnya dengan percaya diri.

Material Area Matematika Usia 3-6 Tahun
Sekarang, kita intip yuk material Montessori apa saja di Area Matematika yang cocok untuk dikenalkan kepada anak sejak usia 3 tahun sampai dengan usia 6 tahun sebagai persiapan masuk sekolah dasar.
Catatan: Jangan kaget yaa Parents kalau di metode Montessori, anak usia prasekolah juga sudah belajar berhitung hingga ribuan tidak hanya satuan dan puluhan saja.
Pengenalan Sistem Bilangan 1-10
Di area matematika Montessori, level pertama untuk mengenalkan Matematika pada anak adalah mengenalkan sistem bilangan berbasis sepuluh. Simbol bilangan 1-10 sejatinya adalah konsep abstrak bagi anak, anak tidak mengerti makna dari angka 1-10.
Untuk itu, material Matematika Montessori yang pertama kali dikenalkan adalah Number Rods. Pada Number Rods, angka 1-10 dibuat menjadi konkrit dengan balok berwarna merah-biru yang menunjukkan kuantitas untuk menggambarkan simbol bilangan. Material yang konkrit disertai dengan bentuk dan warna yang menarik akan membantu anak memahami proses matematika.

Selanjutnya, setelah mendapat gambaran konkrit tentang bilangan 1-10, Direktris akan mengajak anak yang sudah siap untuk mengenal matematika secara lebih abstrak. Hal tersebut adalah mengenal simbol angka menggunakan Sand Paper Number, yang secara prinsip sama seperti Sand Paper Letters hanya saja kertas amplasnya membentuk angka 0-9 dan papannya berwarna hijau.

Lalu, untuk mengasah logika anak agar mampu menghubungkan simbol angka 0-9 yang abstrak dengan kuantitas yang konkret, kelas Montessori menyediakan material Number Rods & Cards dan Spindle Box. Spindle box adalah Sebuah kotak kayu dengan sepuluh kompartemen yang bertuliskan angka 0-9 serta dilengkapi dengan 45 buah pasak.

Saat bekerja dengan Number Rods & Cards dan Spindle Box, anak akan mencocokkan angka dalam kartu/ kompartemen di kotak dengan jumlah konkrit rods dan pasaknya. Selain itu, Spindle Box juga bertujuan untuk mengenalkan bilangan 0 (nol) yang artinya kosong.
Pengenalan Sistem Desimal (Satuan, Puluhan, Ratusan, Ribuan)
Apabila hasil observasi Direktris melihat anak sudah siap untuk melanjutkan ke proses pembelajaran lanjutan, Direktris akan mengajak anak untuk bekerja dengan Golden Beads (Manik-Manik Emas). Ada begitu banyak variasi yang bisa dikerjakan dengan Golden Beads.

Hal pertama yang bisa dikerjakan dengan Golden Beads adalah belajar nama kuantitas satuan, puluhan, ratusan, dan ribuan. Untuk mengenalkan nama kuantitas dapat menggunakan metode 3PL (Three periods of learning) yang nanti akan kita bahas terpisah yaa.
Kemudian secara bertahap, Direktris akan mengenalkan kepada anak bekerja menggunakan Golden Beads dengan cara menghitung, yakni mengambil beberapa manik satuan, puluhan, dan ratusan untuk kemudian meminta anak berhitung.
Setelah anak mendapatkan konsep konkret tentang proses matematika untuk menghitung bilangan secara sederhana, anak akan dikenalkan pada simbol angka satuan, puluhan, ratusan, dan ribuan dengan menggunakan Number Card. Dengan demikian, anak juga akan mengenal simbol angka dari 1-1000.
Ditambah lagi, anak usia prasekolah juga bisa bekerja mengenal kuantitas 1-10 dan 11-19 dengan menggunakan set manik berwarna seperti di gambar.

Area Matematika untuk Usia Sekolah (6-9 Tahun)
Memasuki usia sekolah dasar, pembelajaran Matematika di area matematika Montessori menjadi semakin menantang tetapi juga menyenangkan di saat yang bersamaan. Tentunya masih menggunakan seperangkat material konkrit yang membantu pemahaman dan nalar anak. Beberapa pembelajaran Matematika untuk anak usia sekolah di antaranya sebagai berikut.
Bank Game

Bank Game adalah permainan pretend-play yang memerlukan seorang anak menjadi Teller Bank dan anak lain sebagai nasabah Bank. Anak yang berperan sebagai nasabah akan meminta sejumlah besar manik-manik (menggunakan kartu angka ribuan, ratusan, puluhan, dan satuan yang diberikan Direktris).
Teller bank kemudian memberikan manik-manik sejumlah yang diminta kepada nasabah. Setelahnya nasabah akan menghitung ulang manik-manik yang diberikan lalu dicocokkan dengan kartu angka yang ada. Jika jumlahnya tidak sesuai, nasabah bisa meminta kembali kepada Teller. Jika sudah sesuai, Direktris akan memeriksanya.
Bank Game juga bisa dikerjakan dengan variasi untuk belajar menghitung operasi matematika seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian.
Papan Perkalian

Material Papan Perkalian bertujuan untuk memberikan pengalaman konkrit atas tabel perkalian sekaligus dapat membantu anak untuk menghafal tabel perkalian.
Saat bekerja dengan Papan Perkalian, Direktris akan menyiapkan kartu soal tabel perkalian untuk diselesaikan bersama anak.
Stamp Game
Stamp Game merupakan salah satu permainan ikonik dalam kelas Montessori. Material berupa seperangkat kotak kayu seperti perangko dengan 4 warna: warna hijau untuk bilangan 1; warna biru untuk bilangan 10; warna merah untuk bilangan 100; dan warna hijau untuk bilangan 1000.

Tujuan dari Stamp Game ini adalah untuk melakukan operasi matematika (penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian) baik statis maupun dinamis dengan menggunakan perangko. Perangko ini sebagai bentuk visualisasi material yang lebih abstrak dibanding menggunakan manik-manik atau beads.
Biasanya dalam Stamp Game Direktris juga akan menyiapkan alas kerja operasi yang memiliki tulisan sebagai tanda bilangan di bagian atas alas, yaitu Th (Thousand), H (Hundred), T (Ten), U (Unit).
Itu tadi penjelasan pembelajaran Matematika di kelas Montessori beserta dengan contoh material yang digunakan. Kalau Parents ada yang ingin ditanyakan atau ada material yang ingin dibahas lebih lanjut, boleh tulis di kolom komentar atau singgah di DM Instagram yaa. See you in the next post. Ciao!



