Dalam blogpost sebelumnya, saya membahas kalau Area Keterampilan Hidup atau Exercise of Practical Life (EPL) adalah landasan dari metode pendidikan Montessori. Salah satunya karena Area EPL merupakan area yang paling awal bisa dijelajahi anak mulai usia 2,5 tahun. Sesuai namanya, area ini dirancang untuk mengajarkan anak berbagai keterampilan hidup mendasar sebagai bekal hidup anak-anak di masa mendatang. Pekerjaan di area ini juga dirancang untuk membantu perkembangan anak dari aspek fisik, kognitif, dan emosional.
Di samping itu, area EPL juga menjadi area yang banyak melibatkan gerakan dan eksplorasi dalam kegiatannya. Dengan demikian, area ini akan sangat menarik untuk anak dalam periode sensitif gerak dalam menyalurkan energinya. Tidak hanya gerak acak, pekerjaan di area EPL melibatkan gerak yang bertujuan sehingga mendorong perkembangan otak, otot, dan mental anak. Hal ini sekaligus melatih anak untuk meningkatkan kendali atas gerakannya hingga lebih presisi.
Tentang Area Keterampilan Hidup (Exercise of Practical Life – EPL)
Pada dasarnya, material yang ditampilkan di area EPL atau area keterampilan hidup tidak jauh berbeda dengan kegiatan yang biasa dilakukan oleh orang dewasa sehari-hari. Material EPL yang ditawarkan merupakan peralatan yang biasa orang dewasa gunakan di rumah hanya saja dalam versi ukuran lebih kecil yang sesuai dengan anak. Memang apa saja sih maksudnya kegiatan keterampilan hidup itu yang katanya sudah biasa dilakuan orang dewasa? Parents bisa tebak?
Betul. Pekerjaan rumah tangga seperti membersihkan rumah seperti menyapu, mengepel, dan mengelap jendela; memasak; menyiram tanaman; mencuci kendaraan; dan seterusnya. Hal-hal yang kerap kita anggap mudah tetapi tidak semua orang dewasa mampu melakukannya. Tetapi bagi anak-anak, pekerjaan ini sangat menarik dan ada dorongan dari dalam dirinya yang ingin untuk ikut melakukan apa yang dikerjakan ayah ibunya di rumah. Betul gak Parents? Anak-anak sangat senang ikut ke dapur untuk memegang bahan dan peralatan. Mereka ingin membantu walau hanya satu kali mengaduk. Saat mencuci baju, anak-anak juga suka meminta untuk memasukkan baju ke mesin cuci, atau ikut menggantung pakaian saat menjemur misalnya.
Tidak hanya berupa pekerjaan rumah tangga, kegiatan di area EPL juga mengajarkan berbagai hal-hal dasar yang perlu dipenuhi seorang anak, seperti merawat diri dengan berpakaian sendiri, membersihkan diri dengan mandi dan cuci tangan, menyiapkan makanan dan makan dengan teratur, dsb.

Manfaat Area EPL bagi Anak
Dr. Montessori berpendapat bahwa apabila anak diberikan kesempatan untuk melakukan kegiatan di rumah akan membawa manfaat bagi anak. Terlebih lagi, Dr. Montessori juga menemukan bahwa ada dorongan kuat dari anak yang ingin melakukan banyak hal sendiri sehingga ia berpendapat bahwa sejak kecil seorang anak ingin menjadi mandiri dan meminta bantuan orang tua untuk melakukan banyak hal sendiri. Yang perlu dilakukan orang tua adalah mengamati. Observasi. Dengarkan kebutuhan anak.
Di sisi lain, keterampilan hidup seperti ini sering dipandang tidak perlu-perlu amat diajarkan kepada anak. Seorang anak seharusnya belajar dan dipersiapkan membaca, menulis, dan berhitung supaya nanti saat sekolah bisa jadi pintar. Padahal keterampilan hidup yang seperti ini yang menjadi dasar dan bekal untuk anak tumbuh dewasa menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab. Pribadi yang bertanggung jawab menjaga dirinya sendiri tanpa terlalu banyak menggantungkan diri kepada orang tua maupun orang lain. Di area EPL ini lah, kemandirian, disiplin, dan kepekaan anak juga turut diasah.
Selain manfaat yang disebutkan di atas, saat anak bekerja di area EPL, anak akan banyak menggunakan tangan dan jari-jarinya sehingga bermanfaat juga untuk perkembangan motorik kasar dan motorik halusnya. Anak juga akan meningkatkan konsentrasinya di area EPL karena anak usia dini memiliki rentang waktu konsentrasi yang singkat. Namun, dengan melakukan satu kegiatan EPL di satu waktu tanpa distraksi dan tanpa intervensi dari guru anak pun perlahan akan mampu menambah rentang waktu fokusnya.
Dengan kata lain, dengan menjelajahi area keterampilan hidup (EPL), anak akan memahami tidak hanya lingkungan sekitarnya, tetapi juga dirinya sendiri. Hal ini yang kemudian menjadi landasan yang baik bagi anak untuk tumbuh menjadi individu yang memiliki citra diri positif.
Kategori Kegiatan Keterampilan Hidup
Disclaimer: Bagian Kategori Kegiatan Keterampilan Hidup di Area EPL ini saya ambil dan oleh kembali dari modul pembelajaran Diploma Montessori dari Sunshine Teachers’ Training.
Sebelum masuk ke pembagian kategori kegiatan keterampilan hidup, hal pertama yang diajarkan guru atau direktris Montessori kepada anak muridnya adalah materi aturan dasar (ground rules). Guru akan menjelaskan dengan memberi contoh aturan dasar yang perlu dipatuhi semua orang agar pembelajaran menjadi nyaman dan aman.
Di antara ground rules yang dicontohkan adalah cara berjalan di dalam ruangan; cara membawa kursi dengan membungkuk lalu mengangkatnya setinggi pinggang dan meletakkannya kembali dengan tenang; bagaimana membawa material dan mengembalikannya lagi ke rak; membuka dan menutup pintu dengan perlahan; dan menggunakan (membuka dan menggulung) alas kerja.
Selanjutnya, kita masuk ke empat kategori kegiatan keterampilan hidup yaa.
1. Kegiatan Pemeliharaan Lingkungan di Area EPL
Aktivitas pemeliharaan lingkungan merupakan kegiatan yang sudah akrab bagi orang dewasa lakukan di kehidupan sehari-hari, termasuk kegiatan rumah tangga. Menyendok, menuang, mengelap, membersihkan, menyapu, dan mengepel. Semua anak yang baru masuk kelas Montessori akan diperkenalkan pada kegiatan yang lebih mudah lalu bertahap diperkenalkan pada kegiatan dengan tingkat kesulitan lebih rumit. Berikut beberapa kegiatan pemeliharaan lingkungan di area EPL:
Menyendok
Meski terdengar mudah, kegiatan menyendok ini bertujuan untuk mengajarkan anak cara menyendok yang akan membantu anak untuk bisa menyendok makanannya sendiri dengan tepat dan presisi (tidak tumpah) dengan memperkuat otot jari dan tangan. Namun, setiap pembelajaran Montessori juga memiliki tujuan tidak langsung, untuk kegiatan Menyendok tujuan tidak langsungnya adalah mengajarkan keteraturan, konsentrasi, meningkatkan koordinasi mata dan tangan serta keterampilan motorik halus, hingga bertujuan untuk persiapan menulis.
Jika digambarkan secara visual, kegiatan menyendok akan terdiri dari nampan, sendok, satu mangkuk berisi pasta/kacang/biji dan mangkuk lain yang bisa divariasikan jumlah dan ukurannya. Anak bekerja dengan posisi mangkuk yang ada isinya berada di sebelah kiri dan menyendok ke mangkuk kosong di sebelah kanan lalu setelah habis ia mengembalikan lagi isi ke mangkuk asal. Membiasakan bekerja dari arah kiri ke kanan juga menjadi langkah persiapan untuk menulis dan membaca.

Menuang
Kegiatan sederhana di Area EPL ini juga akan berguna untuk anak di kehidupan sehari-harinya. Tujuan kegiatan ini mengajarkan anak cara menuangkan cairan dan benda kering dari satu teko ke teko lain. Sama seperti menyendok, kegiatan menuang juga memiliki tujuan tidak langsung berupa mengajarkan keteraturan, konsentrasi, meningkatkan koordinasi mata dan tangan serta keterampilan motorik halus, memperkuat kemampuan jari menjepit untuk memegang pensil sebagai persiapan menulis, hingga menyiapkan anak untuk konsep matematika seperti volume.
Kegiatan menuang ini juga bisa dilakukan dengan beberapa variasi. Di area EPL, direktris menyiapkan untuk menuang kering dengan menggunakan pasta/kacang/biji. Kemudian, untuk anak yang sudah mampu menuang kering dapat diperkenalkan ke kegiatan menuang basah dengan menggunakan air. Di setiap kegiatan Montessori yang menggunakan air, direktris akan selalu menyiapkan lap/spons yang akan digunakan anak untuk mengelap tumpahan air saat bekerja.


2. Perkembangan Keterampilan Motorik
Kegiatan di area EPL yang mendukung pengembangan keterampilan motorik ini dirancang untuk mengasah keterampilan motorik halus anak sekaligus untuk meningkatkan kemampuan koordinasi mata-tangan dan konsentrasi. Contoh kegiatan pengembangan keterampilan motorik adalah:
Meronce Manik-Manik Besar
Kegiatan yang bertujuan mengajarkan anak cara meronce manik-manik pada tali sepatu ini juga memiliki tujuan tidak langsung untuk mengembangkan koordinasi mata dan tangan serta mengasah kontrol atas motorik halus anak. Seperti kegiatan Area EPL lainnya, kegiatan ini juga bertujuan untuk melatih konsentrasi dan kemandirian.

Gambar 5. Anak yang bekerja dengan material Meronce Manik-Manik Besar (sumber: dok. Bintang Waktu Jakarta)
3. Perawatan Diri
Alat-alat yang disiapkan di area EPL untuk kategori perawatan diri adalah material yang akan mengajarkan keterampilan aspek kemandirian pada anak. Kegiatan perawatan diri di area EPL mencakup antara lain menyisir rambut, menyikat gigi, mencuci dan mengeringkan tangan, berpakaian, membuka baju, dan menggunting kuku.
Untuk kategori perawatan diri, material yang disediakan tidak banyak. Biasanya yang ada material khususnya adalah satu set bingkai pakaian (dressing frame) yang membantu anak untuk melatih otot-otot tangan dan jari dalam memakai dan melepas pakaian dengan berbagai variasi, seperti kancing besar, retsleting. tali sepatu, velcro, tali pita, dan gesper.

Selebihnya, untuk kegiatan di kategori ini akan dipimpin oleh direktris atau guru dalam mempresentasikan kepada anak-anak mengenai cara-cara kegiatan praktis untuk perawatan diri anak seperti cara mencuci dan mengeringkan tangan, cara bersin dan batuk dengan sopan yaitu dengan menutup mulut menggunakan lipatan siku tangan.
4. Tata Krama dan Sopan Santun di Area EPL
Dalam metodenya, Dr. Montessori berpendapat bahwa kegiatan yang paling penting dari area EPL di kelasnya adalah kegiatan tata krama dan sopan santun. Bekerja di kelas Montessori merupakan latihan berkehidupan sosial bagi anak, begitu pandangan Dr. Montessori. Dengan demikian, penting bagi guru untuk mengajarkan kepada anak mengenai tata krama dan sopan santun seperti cara menyapa dan berjabat tangan, mengajak anak untuk selalu mengatakan kata “tolong”, “maaf”, dan “terima kasih”.
Selain itu, anak juga diajarkan untuk mendengarkan dengan tenang saat orang lain sedang bicara dan cara menyela pembicaraan orang lain dengan sopan. Apabila ada tamu dari luar lingkungan sekolah, anak-anak juga dibekali dengan pengetahuan bagaimana untuk bersikap kepada mereka. Keterampilan tata krama dan sopan santun ini diajarkan oleh guru dalam bentuk sandiwara pendek atau role-play yang juga melibatkan anak-anak agar pembelajaran lebih melekat.
—
Akhirnyaaaa, tuntas deh pembahasan Area Keterampilan Hidup Montessori. Sebetulnya banyaaak sekali contoh-contoh kegiatan di setiap kategorinya, tapi kan nanti bakal panjang banget ya post ini. Kalau banyak yang tertarik dan minat buat eksplorasi Area EPL lebih lanjut nanti aku usahakan bikin videonya deh. Komen di bawah yaa mau dibahas yang bagian mana. Ciao!




