
Parents pasti sudah familiar ya dengan konsep mengikuti dan mengembangkan minat dan bakat anak? Nah, tapi Parents tahu gak kalau minat anak berkembang pada masa atau rentang periode tertentu lho.
Salah satu ide Dr. Montessori yang sangat menarik dan mengubah pandangan pada cara anak belajar adalah Sensitive Period atau Periode Sensitif yang dimiliki anak usia dini (usia 0-6 tahun). Orang tua dan guru yang memahami Periode Sensitif, dapat memanfaatkan momen ketertarikan anak pada suatu hal tertentu guna mengoptimalkan potensi yang bisa dikembangkan anak.
Apa itu Periode Sensitif Anak?
Ide Periode Sensitif dari Dr. Montessori terinspirasi dari seorang ahli botani di masanya dan juga para ilmuwan yang yakin bahwa setiap makhluk hidup mengalami periode sensitif, yaitu waktu ketika mereka siap untuk berkembang dengan cara tertentu, tergantung pada rangsangan lingkungan sekitar.
Lebih lanjut lagi, Dr. Montessori percaya bahwa periode sensitif terjadi ketika anak tertarik pada suatu fitur di lingkungan sekitarnya yang bisa memberikan keuntungan bagi perkembangannya, baik perkembangan fisik maupun psikis. Hal ini terjadi secara alami berdasarkan dorongan naluri di dalam diri anak yang memandu anak melalui rasa kepekaan/sensitivitas sehingga tertarik pada suatu hal yang nantinya akan mereka kuasai.
Sebagaimana segala sesuatu di dunia ini memiliki periodenya masing-masing, Periode Sensitif juga memiliki rentang waktu tertentu. Untuk itu, Dr. Montessori menekankan pentingnya memberikan input, seperti stimulasi/rangsangan, yang tepat kepada anak sesuai periodenya. Sebab, apabila periode sensitifnya sudah berlalu tanpa stimulus atau terlambat memberikannya, ada kemungkinan anak tidak menguasai keterampilan tersebut, atau hasilnya tidak sebaik jika diberikan pada periode sensitinya.
Periode Sensitif ini juga dibagi dalam beberapa kategori sesuai dengan keterampilan yang dikuasai anak. Berikut penjelasannya.
1. Periode Sensitif Anak terhadap Bahasa

Periode ini berlangsung di lima tahun pertama kehidupan anak (0-5 tahun). Pada periode ini, kepekaan anak terhadap bahasa sangat tinggi. Sejak lahir, anak sudah mengenal suara dari ibu dan ayahnya. Dr. Montessori mencatat bahwa bayi berusia 4 bulan sudah menunjukkan ketertarikan untuk memperhatikan orang tua dan orang di sekelilingnya saat bicara. Sejak bayi pun anak belajar untuk meniru mengeluarkan suara untuk berkomunikasi, seperti cooing, babbling, bicara satu-dua kata, hingga bisa menyusun kalimat.
Periode Sensitif terhadap bahasa tidak berhenti ketika anak sudah bicara. Periode ini akan terus berlanjut hingga usia 5 tahun saat anak mulai tertarik pada kegiatan mencoret garis, membuat pola, dan kegiatan untuk menulis lainnya serta tertarik pada bunyi huruf, simbol angka dan huruf, tertarik pada buku, dan tertarik untuk membaca huruf-huruf yang bergabung.
2. Periode Sensitif Anak terhadap Keteraturan (Order)
Di dua tahun kehidupan pertamanya (0-2 tahun), anak juga mengalami periode sensitif terhadap keteraturan. Keteraturan yang dimaksud mencakup rutinitas atau kegiatan yang bisa diprediksi anak dan keteraturan atau tata letak spasial/ruangan.
Anak di periode ini sangat memperhatikan bagaimana suatu hal dilakukan sesuai urutan, bagaimana suatu objek ditempatkan di tempat seharusnya, bagaimana seseorang tampil sesuai dengan kebiasaan. Dr. Montessori menyebutkan bahwa dalam masa ini anak akan sangat peka dan bisa dengan mudah melihat perbedaan penampilan, perbedaan urutan, perbedaan letak suatu objek.
Apabila ada perubahan dalam tata letak rumah, seperti meja makan yang bergeser, yang sudah biasa ia kenal, biasanya anak dalam periode akan merasa kesal sebagai respon alaminya. Anak juga cenderung akan mengalami tantrum ketika ia dalam periode ini tetapi harus menghadapi aktivtas baru yang berbeda dari ritme kesehariannya. Misalnya, anak terbiasa setelah bangun tidur, anak akan mandi, lalu makan dan jalan-jalan di taman, ia akan memprediksi setelah makan akan berjalan-jalan tetapi jika diubah menjadi membantu ibu mencuci buah ia akan merasa marah karena ritme keteraturannya terganggu.
3. Periode Sensitif Anak untuk Bergerak dan Berjalan
Anak yang memasuki usia 1 tahun akan mulai mengalami Periode Sensitif untuk Berjalan. Dalam buku The Absorbent Mind, Dr. Montessori menjelaskan kalau berjalan merupakan tahan fisiologis yang sangat penting bagi anak. Tidak seperti mamalia lain yang umumnya langsung bisa berdiri dan berjalan setelah lahir, bayi manusia perlu mencapai perkembangan tertentu pada otak, otot, dan tulang serta kakinya untuk bisa menopang tubuhnya bergerak secara mandiri.

Kemampuan bayi untuk berdiri tergantung pada perkembangan otak bagian Cerebellum. Cerebellum merupakan bagian otak yang bertanggung jawab mengendalikan gerakan/motorik. Saat usia anak mencapai 6 bulan, Cerebellum berkembang dengan pesat dan terus berkembang hingga usia anak mencapai 15 bulan lalu setelahnya perkembangan otak Cerebellum akan melambat.
Oleh karena itu, saat rata-rata bayi berusia 6 bulan mereka mulai belajar duduk, umur 9 bulan bayi mulai merangkak, di usia 10 bulan bayi bisa berdiri dan belajar berjalan di usia 12-13 bulan. Lalu 3 bulan setelahnya anak bisa berjalan dengan lebih aman.
Selain itu, untuk bisa berjalan, saraf spinal anak harus berkembang dan matang. Saraf spinal terbentuk dari kumpulan saraf sensorik dan motorik dan bertanggung jawab terhadap fungsi sensorik dan motorik tubuh. Selanjutnya, anak juga perlu mencapai perkembangan rangka tulang untuk mendukungnya bisa berjalan. Didahului dengan penyempurnaan tengkorak kepala yang harus tertutup dan berkembang dengan baik sebelum anak belajar berjalan. Kemudian, penyempurnaan berlanjut pada penguatan tulang kakinya. Sebab jika tidak, saat anak belajar jalan dan terjatuh dia akan melukai kepalanya.
Setelah mampu berjalan, anak akan aktif bergerak dan pasti sulit untuk orang tua mencegah atau menyuruh anak berhenti. Dengan bergerak, anak akan belajar bergerak secara mandiri dan belajar mengendalikan gerakan. Ia akan mengeksplorasi tempat yang lebih luas, berjalan lebih cepat, berlari, dan melompat. Anak pun mengembangkan kemampuan motorik kasarnya. Untuk lengkapnya, Parents bisa baca di blogpost saya sebelumnya di sini yaa.
4. Periode Sensitif Anak terhadap Benda Kecil
Setelah memasuki usia 1 tahun, anak mulai mengeksplorasi dunianya yang lebih luas melalui gerakan yang mandiri, berjalan dan berlari. Di sisi lain, pada periode ini ternyata anak juga mengalami ketertarikan pada benda-benda yang ia lihat di sekitarnya, khususnya benda-benda berukuran kecil. Anak akan suka memandangi kerikil, remahan kue, semut berjalan, atau benda kecil lainnya. Biasanya, anak akan berhenti untuk melihat dan mengamati lebih lanjut. Bahkan tak jarang, anak-anak akan memasukkan benda kecil itu ke dalam mulut.
Hal ini dilakukan sebagai cara anak untuk lebih mengerti tentang dunia yang baru ia jelajahi. Apabila anak melewati periode sensitif ini dengan tuntas, anak akan memperoleh pandangan baru. Ia akan memperoleh pemahaman yang utuh tentang hal-hal detail dan teratur. Anak juga akan memahami hubungan atas seluruh hal tersebut.
5. Periode Sensitif Anak terhadap Pengembangan Indra (senses)

Penelitian menunjukkan bahwa kualitas kemampuan sensori (misal membedakan tekstur sentuhan, mengikuti gerakan, dan posisi tubuh secara tepat) seseorang dipengaruhi oleh pengalaman sensorik yang dimilikinya di periode awal kehidupan. Hal ini dikarenakan otak anak memiliki ciri khas yang disebut plastisitas atau kemampuan otak untuk berubah dan beradaptasi sesuai kebutuhannya.
Dengan demikian, sejak lahir hingga usia 5 tahun seorang anak mengalami fase untuk menyempurnakan kemampuan sensorinya. Pengalaman sensorial atau pengembangan indera untuk anak usia dini merupakan pengalaman yang baru yang bisa jadi menyenangkan bagi mereka.
Mereka melakukan eksplorasi dengan penglihatan dengan memperhatikan warna dan gambar yang beragam; pendengaran dengan mengikuti ritme lagu dan membedakan volume suara; sentuhan dengan merasakan tekstur dan temperatur objek; penciuman dengan mengendus aroma bunga dan masakan ibu; perasa dengan mencicipi berbagai jenis rasa manis, asam, asin, dan pahit; keseimbangan dengan belajar berlari dan mengendarai sepeda; dan kesadaran tubuh dengan melompat dan bermain lempar tangkap bola.
Kerap kali ketika anak sedang dalam Periode Sensitif Sensori ini, anak ingin bermain dengan air (tuang-menuang) atau bermain dengan benda-benda kecil dengan beragam tekstur, seperti pasir, beras, pasta, dsb. Tentu hal ini membuat Parents terutama para Ibu agak kewalahan karena harus membereskannya kembali hingga akhirnya sering ingin mengucap kepada anak: “Jangan lakukan ini!” “Jangan main itu!”.
Padahal melarang anak untuk beraktivitas sensori di periode ini sama saja seperti melarang anak bergerak ketika ia sudah bisa jalan, sama seperti menyuruh anak diam ketika anak sedang senang berbicara. Ya, tidak efektif karena anak akan tetap melakukannya. Jikalau pun anak berhenti dan tidak melakukannya, pada akhirnya hal ini akan berdampak pada menghambat pertumbuhan sensori anak. Sementara itu, kita tahu bahwa kemampuan sensori yang dikembangkan anak akan berpengaruh pada pengembangan kemampuan yang lebih kompleks.
6. Periode Sensitif Anak terhadap Kehidupan Sosial
Di fase berikutnya, anak berusia 2,5 sampai dengan 6 tahun mulai menyadari dan memiliki keinginan untuk bergabung serta menjadi hubungan sosial dengan orang (anak) lainnya. Anak yang lebih muda cenderung memperhatikan bagaimana untuk bersikap dan berkomunikasi saat dirinya berada di sekelompok orang.
Kemudian, anak akan belajar bagaimana ia bermain/bekerja berdampingan dengan anak lain. Ia akan mengalami konflik pertamanya, seperti memperebutkan mainan yang sama dengan anak lain, tetapi dengan bantuan orang tua dia juga akan belajar bagaimana menyelesaikannya dengan baik. Hingga pada akhirnya, anak akan belajar untuk berkolaborasi atau bekerja sama dengan anak lain.
Pada periode ini, peran Parents sangat penting nih untuk mendukung anak menguasai keterampilan sosial. Parents bisa membekali anak dengan nilai-nilai adab sopan santun dan tata krama saat berinteraksi dengan orang lain. Kenalkan tiga kata ajaib: “Tolong”, “Maaf”, dan “Terima kasih” sedini mungkin hingga anak terbiasa menggunakannya di rumah dan di lingkungan sosial.

Jadi, itu gambaran umum Periode Sensitif yang dialami seorang anak di awal-awal kehidupannya. Tugas kita sebagai orang tua untuk mengamati apa yang membuat anak kita tertarik dan dampingianak agar dapat mengakses hal-hal yang diminatinya pada periode yang tepat guna mengoptimalkan tumbuh kembangnya. Tak lupa juga, Parents bisa siapkan Prepared Environment untuk mendukung anak mengeksplorasi dunianya dengan aman.
Parents apakah mau dibagi tips tentang dos and don’ts yang perlu kita lakukan sebagai orang tua dalam membersamai anak di masing-masing Periode Sensitifnya? Komen di bawah yaa. Ciao!



