Halo Parents! Selamat datang di Semesta Berseri.
Mari kita mulai berpetualang di dunia pengasuhan dan pendidikan anak yang seru meskipun penuh tantangan. Senyum dulu ya, tarik nafas lalu hembuskan. Sudah siap?
Yuk kita kenalan lebih jauh dengan Montessori.
Apa Parents sudah pernah mendengar tentang Montessori? Apa yang Parents bayangkan saat mendengar kata Montessori?
Sekolahnya mahal? Banyak material kayu yang gak biasa dilihat? Anak muridnya mandiri? Atau malah masih asing nih dengan Montessori? Langsung saja kita kenalan lebih dekat dengan Montessori yaa. Cuss kepoin!
Apa atau Siapa sih Montessori?
Montessori yang sekarang kita kenal merupakan salah satu metode atau pendekatan pendidikan yang memiliki cara pandang berbeda dibandingkan metode/pendekatan pendidikan konvensional yang umumnya kita temui di sekitar kita.
Sebelum kita melangkah lebih jauh mengenai gambaran pendidikan ala Montessori, saya ingin mengajak Parents untuk mengenal sosok dibalik pendekatan Montessori yang sedang happening akhir-akhir ini. Dia adalah Dr. Maria Montessori. Yup, hasil karya beliau yang luar biasa di bidang pendidikan ini dinamakan sesuai nama tokohnya sendiri. Supaya tidak bingung membedakan kita sedang membicarakan tokohnya atau metodenya, selanjutnya saya akan menuliskan Dr. Montessori yang merujuk pada tokohnya dan Montessori yang merujuk pada metodenya.
Dr. Maria Montessori

Dr. Maria Montessori adalah seorang dokter, pendidik, ilmuwan, dan inovator berkebangsaan Italia yang lahir di tahun 1870. Di tahun 1896, Dr. Montessori menjadi wanita pertama yang lulus dari Universitas Roma Jurusan Kedokteran sebagai dokter medis.
Setelah lulus, Dr. Montessori bekerja dengan anak-anak berkebutuhan khusus di bangsal kejiwaan rumah sakit di Italia. Ia sangat tertarik untuk mengembangkan material untuk dipelajari dan mengamati anak-anak tersebut. Di luar dugaan, anak-anak berkebutuhan khusus tersebut bisa mempelajari banyak hal yang sebelumnya dianggap mustahil.
Dr. Montessori menjadi sangat tertarik pada pendidikan anak. Beliau mengabdikan sepanjang hidupnya untuk melakukan riset dan mengembangkan metode pendidikan untuk anak belajar secara alami sesuai nalurinya.
Casa dei Bambini
Pada tahun 1907, Dr. Montessori mendirikan sekolah Montessori pertama di Roma, Italia yang diberi nama “Casa dei Bambini” yang memiliki makna, Rumah Anak-Anak. Murid-murid di sekolah ini adalah 50-60 anak dengan rentang usia 3-6 tahun yang berasal dari keluarga tidak mampu.
Pemandangan tidak biasa kerap terlihat dari anak-anak di Casa dei Bambini. Anak-anak bisa fokus tenang bekerja dengan berbagai material yang seukuran dengan tangan mungilnya, anak-anak dapat lancar membaca dan menulis, dan anak-anak terlihat rapi dan disiplin tanpa paksaan atau pun perintah dari gurunya.
Pertanyaannya: Bagaimana Bisa?
Dalam perjalanannya mendalami pendidikan anak, Dr. Montessori mengamati bahwa anak-anak di sekolah tradisional tidak mengalami kemajuan yang signifikan. Dr. Montessori memiliki ide yang sama sekali berbeda dari sekolah tradisional.
Untuk itu, ia mendirikan Casa dei Bambini yang dilengkapi dengan berbagai furnitur, seperti lemari, meja, dan kursi, berukuran kecil yang dirancang untuk anak dan mengembangkan berbagai material yang membuat anak aktif. Dr. Montessori percaya bahwa anak yang bekerja aktif menggunakan tangan akan mendapatkan pembelajaran lebih baik. Ruang kelas untuk belajar juga menggunakan bahan yang senatural mungkin.
“What the hand does, the mind remembers.” – Maria Montessori
Aktivitas di Casa dei Bambini
Casa dei Bambini juga tidak memisahkan anak-anak dalam kelas berdasarkan usianya seperti kelas tradisional. Anak-anak usia 3-6 tahun bergabung dan belajar bersama saling berbagi ruangan dan material yang sama. Dr. Montessori menemukan bahwa anak-anak yang lebih muda bisa berbaur dengan anak yang lebih tua. Anak yang lebih muda juga memiliki ketertarikan menggunakan material yang didesain untuk anak lebih tua.
Material yang digunakan di dalam kelas merupakan hasil pengembangan Dr. Montessori melalui berbagai tes dan percobaan kepada anak dengan tujuan untuk mengajarkan suatu konsep tertentu. Material Montessori yang dikembangkan dapat dikategorikan dalam beberapa area seperti area matematika, bahasa, musik, sejarah, seni, dsb yang apabila digabung dapat membentuk suatu kurikulum.
Di kelas, anak pun diberi kebebasan untuk memilih material yang dikerjakan. Sementara itu, Dr. Montessori dan guru menjelaskan penggunaan material di awal lalu akan lebih banyak melakukan observasi pada anak-anak di Casa dei Bambini.
Anak-anak di Casa dei Bambini, sebagaimana diceritakan dalam buku Dr. Montessori – The Absorbent Mind, tidak hanya mampu bekerja dengan tenang di kelas, tetapi juga mampu menunjukkan sikap yang sopan saat ada tamu yang datang berkunjung untuk melihat hasil karya Dr. Montessori. Para anak menunjukkan antusiasnya dan bekerja dengan kemampuan terbaik mereka. Dr. Montessori anak-anak dengan Pikiran yang Mudah Menyerap ini lah yang mengajarkan diri mereka untuk bersikap menghormati dengan melihat dan mencontoh lingkungan mereka.
Casa dei Bambini yang bentuknya sederhana kini telah menjelma menjadi sekolah montessori modern. Namun demikian, inti dan prinsip utamnya tetap sama seperti ruangan yang luas sehingga membuat ruang gerak yang cukup untuk anak, furnitur dan peralatan dengan ukuran yang sesuai dengan anak, material yang terbuat dari bahan-bahan natural, dan keberadaan guru, atau kini lebih akrab disebut Direktris, sebagai pengamat (observer) dalam kelas.

Karya Dr. Montessori

Kabar kesuksesan pendidikan dengan metode yang dikembangkan Dr. Montessori tersebar dengan cepat. Banyak orang dari berbagai belahan dunia tertarik untuk mengunjungi Casa dei Bambini dan melihat anak-anak luar biasa. Dr. Montessori juga kerap diundang untuk berbagi hasil risetnya. Begitu banyak orang yang terinspirasi dengan pendekatan Dr. Montessori dalam mendidik anak-anak yang penuh dengan stimulasi.
Pada tahun 1909, Dr. Montessori menerbitkan laporan hasil pengembangan metode pendidikan yang digunakannya di Casa dei Bambini dalam bentuk buku berbahasa Italia. Buku tersebut pertama kali diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan judul “The Montessori Method” yang kerap dikenal sebagai pedagogi ilmiah yang diterapkan untuk pendidikan anak di Casa dei Bambini.
Setelahnya, Dr. Montessori juga aktif menulis buku-buku terkait hasil temuannya dalam pendidikan anak. Beberapa di antara bukunya adalah The Absorbent Mind, The Secret of Childhood, dan The Discovery of a Child.
Dr. Montessori juga sering berkunjung ke berbagai negara untuk mengajar dan juga berbagi tentang pekerjaannya. Selain bepergian untuk berpidato menyampaikan hasil karyanya, Dr. Montessori juga banyak melakukan pelatihan untuk guru-guru sekolah Montessori yang juga sudah menyebar dengan cukup signifikan di penjuru dunia. Dr. Montessori pernah tinggal di India selama 7 tahun untuk melatih 1.500 guru sekolah Montessori di sana.
Dr. Montessori mengembangkan sistem dan metode pendidikan Montessori melalui proses trial and error yang panjang, sepanjang hidupnya. Ia kemudian juga mendirikan Association Montessori Internationale (AMI) untuk melanjutkan hasil kerjanya dan melakukan pelatihan kepada para guru Montessori.

Penutup
Perjalanannya yang panjang membuat metode Montessori semakin menarik. Sambil merenung saya sering bertanya-tanya, bagaimana suatu sistem pendidikan yang pendekatannya sangat berbeda dan tidak umum ditemui di lingkungan sekitar masih bisa bertahan dan tetap relevan setelah lebih dari satu abad sejak ia dikembangkan? Bahkan kini, sekolah dengan label Montessori semakin mudah ditemui, khususnya di kota-kota besar di Indonesia, terlepas dari tingginya biaya yang harus dikeluarkan orang tua untuk menyekolahkan anaknya di sana. Kok bisa?
Pada akhirnya, menurut saya, Montessori tetap relevan dan semakin banyak diterima masyarakat di antaranya adalah karena filosofi pendidikan Montessori yang berasal dari kebutuhan dan kemampuan unik anak, tidak semata-mata memandang pendidikan dari sudut pandang orang dewasa. Dr. Montessori mewariskan nilai-nilai tentang bagaimana orang dewasa harus menghargai anak, mengikuti keinginan anak, dan memberikan kebebasan yang terbatas kepada anak. Di kemudian hari, nilai-nilai tersebut menunjukkan hasil positif pada perkembangan fisik dan psikologis anak. Tentu ini salah satu yang diharapkan Parents dalam masa tumbuh kembang anak, bukan?




Hi, this is a comment.
To get started with moderating, editing, and deleting comments, please visit the Comments screen in the dashboard.
Commenter avatars come from Gravatar.